Kumba, Ruteng, Manggarai

PAROKIKUMBA.ORG – Lebih dari 30 orang dari paguyuban Ngada di Manggarai menyemarakkan Misa Syukur Tahbisan Imamat RD Ephifanio Mariano Mane, disapa Romo Fano dengan Tarian Jai, Sabtu pagi, 11 Oktober 2025. Tarian yang berasal dari tradisi suku Ngada, ini merupakan tarian adat yang dilakukan dengan riang gembira sebagai bentuk syukur dan kegembiraan termasuk dalam menyambut tetamu istimewa. Mereka dikoordinasi oleh Dominicus Waso. Berkostum adat Ngada, seperti Lu’e (kain panjang) dan Sapu (selendang panjang) yang dipakai para lelaki dan Lawojara (kain panjang) serta Kerus (selendang) yang menjadi busana para wanita.

Saat rombongan keluarga imam baru dan barisan para imam berjalan dari pastoran menuju Gereja Santu Mikael, tempat digelarnya misa, para penari Jai serentak menghentakkan kaki diiringi musik, lagu dan lirik yang menghidupkan suasana dengan riang gembira. Di kejauhan nampak, Marsel Mane, ayah dari RD Fano tak ketinggalan sempat ikut bergoyang beberapa saat. Penampilan para penari yang sebagian besarnya orang tua, ini ‘mengguncang’ pelataran timur hingga memasuki teras depan Gereja Kumba dan menarik perhatian banyak orang.

Bernadeta Solaruba, saat tampil menjadi pemandu atau dalam bahasa daerah Ngada, disebut Pera Wa’i yang menyemangati dan memandu gerak-gerik tarian Jai paguyuban Ngada di Manggarai saat Misa Syukur Tahbisan Imamat RD Ephifanio Mariano Mane di Gereja Santu Mikael Kumba, Sabtu, 11 Oktober 2025 pagi. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Dari barisan paling depan para penari ada Bernadeta Solaruba, yang berperan sebagai Pera Wa’i yakni pemandu setiap gerakan menari. Gerakan gemulai Bernadeta yang nyaris sempurna itu pun menyemangati penari lainnya sehingga menampilkan kemampuan menari terbaik dan kompak. Di barisan imam yang sedang menuju Gereja, tampak para imam baru yang ditahbiskan bersama RD Fano, Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Ruteng RP Sebastian Hobahana, SVD, Pastor Paroki Katedral Ruteng RD Antonius Ryanto Latu Batara, Pastor Paroki Kumba RD Kornelis Hardin, juga Pastor Paroki Kristus Raja Mbaumuku RD Leonardus E. Novery.

Ada pula Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Ruteng, RD Blasius Harmin, Pastor Paroki Narang, RD Stafanus Sawu, para biarawan dari kongregasi-kongregasi yang berkarya di Keuskupan Ruteng, para Vikaris Parokial dan imam yang berkarya di lembaga/seminari. Misa ini dimeriahkan koor Paduan Suara “Suara Kasih”. Misa ini dihadiri lebih dari seribu umat yang memenuhi Gereja Kumba dan berjalan lancar dalam suasana khidmat.

RD Ephifanio Mariano Mane saat disambut secara adat di gerbang depan Gereja Santu Mikael Kumba sesaat sebelum menggelar Misa Syukur Tahbisan Imamatnya pada Sabtu, 11 Oktober 2025 pagi. Tampak RD Fano saat dipakaikan selendang dan topi Songke setelah ritus Kepok oleh jajaran pengurus DPP dan DKP Paroki Kumba. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Imamat Bukan Untuk Diri Sendiri dan Keluarga

Dalam pengantarnya saat membuka Misa, RD Fano mengatakan semua panggilan hidup, baik sebagai imam, biarawan-biarawati, juga sebagai awam adalah baik, agung dan kudus di hadapan Allah, sebab dalam rupa-rupa panggilan ini, Allah yang berbelas kasih, Allah yang menjaga, membimbing dan menolong hadir-menyatakan diri-Nya kepada kita.

Rombongan para imam sedang berjalan menuju Gereja Santu Mikael Kumba pada Perayaan Ekaristi Syukuran Tahbisan Imamat RD Ephifanio Mariano Mane, Sabtu, 11 Oktober 2025 pagi. Misa ini dihadiri oleh 27 imam, baik imam diosesan Keuskupan Ruteng juga para imam biarawan dari berbagai kongregasi. (FotoPAROKIKUMBA.ORG)

“Hari ini kita berkumpul untuk mensyukuri panggilan hidup kita, khususnya panggilan hidup saya sebagai seorang imam. Imamat ini adalah panggilan yang saya jawab bukan untuk diri sendiri, bukan juga untuk keluarga tetapi untuk gereja, demi kemualiaan Allah dan pengudusan manusia,” ucap RD Fano. Ia mengajak semua umat untuk selalu mendoakan para imam agar mampu menunjukan wajah kerendahan hati, kesetiaan, kesabaran dan belaskasih Allah dan mampu mengutamakan kerajaan Allah dan kebenaran-Nya di atas segala-galanya.

Ia menuturkan, dengan memilih motto tahbisan imamatnya, yakni Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, dan semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33) dirinya ingin membebaskan diri dari setiap kekhawatiran akan hal-hal yang fana; sebab segala yang fana akan menemukan maknanya dalam yang kekal, yaitu Tuhan sendiri.

RD Ephifanio Mariano Mane (berjalan paling belakang) bersama sejumlah rekan imam lainnya yang ditahbiskan bersama oleh Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat saat sedang berjalan menuju Gereja Santu Mikael Kumba pada gelaran Misa Syukur Tahbisan Imamatnya yang dihadiri 27 imam, para biarawan-biarawati, dan lebih dari seribu umat Paroki Kumba. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

“Ini merupakan sebuah sabda yang sungguh sakti. Saya pun yakin kita semua mengilhami sabda ini sebagai sebuah kebenaran. Percayalah, ketika kita mempersembahkan kepunyaan kita kepada Tuhan, maka ia akan membalasnya bagi mu, anak-anakmu dan cucu-cucumu. Saya menyadari kekuatan sabda ini ketika berpraktik pastoral. Banyak uluran-uluran tangan kasih yang membantu saya dalam karya pelayanan, bahkan dari orang-orang yang tidak pernah dijumpai sebelumnya. Jika tidak percaya, cobalah sendiri. Persembahkan hidupmu seluruhnya kepada Allah dengan cinta dan spirit pengorbanan, maka engkau akan hidup dalam, kepenuhan rahmat Allah,” ucap RD Fano.

Menjelang akhir misa, Pastor Paroki Kumba, RD Kornelis Hardin didampingi Ketua Pelaksana II DPP, Hima Domi Antonius, disaksikan para imam, biarawan-biarawati dan ribuan umat yang hadir, menyerahkan cindera mata “Kado Kasih” dari umat paroki Kumba. Program ini telah menjadi tradisi di Paroki Kumba yang diberikan khusus kepada semua imam putra paroki atau yang berasal dari paroki Kumba. Seusai mia digelar acara resepsi syukuran di Aula Paroki Kumba hingga petang hari. (Jimmy Carvallo)