Kumba, Ruteng, Manggarai

Foto: Vikaris Parokial Paroki St. Mikael Kumba RD Max Haber saat sedang berbincang dengan anak-anak dan orang tua mereka seusai Misa Hari Komunikasi Sedunia ke-60 di halaman Gereja Kumba, Minggu siang, 17 Mei 2026. (Foto: PAROKUKUMBA.ORG)

CATATAN REDAKSI: Hari Komunikasi Sedunia ke-60 yang jatuh pada Minggu, 17 Mei 2026 dirayakan secara meriah di Gereja Santu Mikael Kumba, Keuskupan Ruteng. Dalam konteks kehidupan masyarakat dewasa ini, komunikasi memiliki arti penting dalam menjembatani dan memperat persaudaraan. Terlebih di tengah kebisingan, kemajuan teknologi, dan menjamurnya berita hoax dan ujaran kebencian yang bersliweran setiap waktu.

Kami mempersembahkan kepada para pembaca setia PAROKIKUMBA.ORG renungan inspiratif Hari Komunikasi Sedunia ke-60 yang ditulis oleh Vikaris Parokial Paroki Kumba RD Max Haber yang dibacakannya dalam homili pada Misa ke-3, Minggu, 17 Mei 2026 di Gereja Santu Mikael Kumba yang juga dimeriahkan oleh koor mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia Unika St. Paulus Ruteng. Berikut renungannya…

DUNIA kita saat ini sedang menghadapi banyak persoalan. Pertengkaran dalam keluarga, permusuhan di masyarakat, berita bohong di media sosial, kata-kata kasar, saling menghina, dan hilangnya sikap saling mendengarkan dan saling menghargai menjadi hal yang semakin biasa. Teknologi komunikasi berkembang sangat cepat, tetapi ironisnya manusia justru semakin sulit membangun hubungan yang hangat dan tulus. Banyak orang sibuk berbicara, tetapi sedikit yang mau mendengar. Banyak yang ingin dilihat dan dipuji, tetapi lupa menghargai sesama sebagai manusia yang bermartabat.

Karena itu, pada Hari Minggu Paskah VII ini, Gereja secara khusus merayakannya sebagai Hari Komunikasi Sedunia yang ke 60. Dan untuk momen ini, Paus Leo XIV mengeluarkan sebuah pesan dengan judul yang sederhana namun sangat mendalam: Menjaga Suara dan Wajah Manusia.

Tema ini mengajak kita untuk menyadari bahwa komunikasi bukan hanya soal kata-kata atau teknologi, tetapi soal manusia. Suara manusia harus dijaga agar tetap menjadi suara yang membawa kebaikan, kebenaran, dan kasih. Wajah manusia juga harus dijaga agar jangan direndahkan, dihina, atau dipermalukan melalui kata-kata dan tindakan kita.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa komunikasi adalah sarana membangun persekutuan dan persaudaraan. Mendiang Paus Franciskus sering mengingatkan bahwa komunikasi kristiani harus lahir dari hati yang mampu mendengar dengan kasih. Karena komunikasi yang baik bukan pertama-tama soal berbicara, tetapi soal menghargai martabat manusia, sesama, dan orang lain.

Dalam bacaan pertama (Kisah Para Rasul 1:12-14), setelah Tuhan Yesus naik ke surga, para murid bersama Bunda Maria kembali ke Yerusalem dan berkumpul dalam doa. Mereka sehati dan sejiwa. Mereka sadar bahwa tugas perutusan yang mereka terima tidak mudah. Karena itu mereka membangun komunikasi yang erat dengan Allah melalui doa.

Di sini kita belajar bahwa menjaga suara dan wajah manusia harus dimulai dari hubungan yang dekat dengan Tuhan. Orang yang dekat dengan Allah akan belajar dan terdorong untuk berbicara dengan bijaksana, tidak mudah menyakiti, dan mampu melihat sesama sebagai saudara. Sebaliknya, ketika hubungannya dengan Allah menjadi lemah dan renggang maka manusia akan mudah memakai kata-kata untuk melukai dan bahkan merendahkan orang lain.

Dalam bacaan kedua (1 Petrus 4:13-16), Rasul Petrus mengingatkan umat agar tetap bersukacita walaupun menderita karena melakukan kebaikan. Lebih baik menderita karena berbuat baik daripada karena melakukan kejahatan. Sabda ini mengingatkan kita bahwa suara seorang kristiani harus menjadi suara kebenaran dan kasih, walaupun kadang tidak disukai orang lain.

Di zaman sekarang, banyak orang memakai media sosial untuk menyerang, mempermalukan, bahkan menghancurkan nama baik sesamanya. Wajah manusia sering tidak lagi dihargai. Orang dihina hanya karena berbeda pendapat, berbeda pilihan, atau melakukan kesalahan. Padahal setiap manusia adalah gambar Allah yang memiliki martabat luhur dan harus dihormati dan dihargai.

Vikaris Parokial Paroki Kumba RD Max Haber saat sedang memberkati anak-anak dalam misa Hari Minggu Komunikasi Sedunia di Gereja St. Mikael Kumba, Minggu, 17 Mei 2026. Tampak mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia sedang bernyanyi memeriahkan misa tersebut. (Foto: PAROKIKUMBA.ORG)

Injil hari ini (Yohanes 17:1-11a) menunjukkan Yesus yang sedang berdoa kepada Allah Bapa. Sebelum sengsara-Nya, Yesus tidak sibuk [memikirkan kesengsaraan yang akan menimpa] dengan diri-Nya sendiri, tetapi berdoa untuk para murid-Nya. Yesus menunjukkan bahwa komunikasi sejati lahir dari kasih dan perhatian kepada sesama.

Yesus selalu menjaga suara-Nya. Ia berbicara dengan lemah lembut, menghibur yang sedih, mengampuni orang berdosa, dan membela mereka yang kecil dan tersingkir. Yesus menjaga wajah manusia. Ia tidak mempermalukan orang berdosa, tetapi mengangkat martabat mereka kembali.

Dari Sabda Tuhan hari ini, ada beberapa hal yang bisa kita renungkan bersama.

Pertama, jagalah suara kita. Kata-kata kita harus menjadi sumber damai, bukan sumber luka. Jangan mudah marah, memfitnah, menghina, atau menyebarkan berita bohong. Sebelum berbicara atau menulis sesuatu, terutama di media sosial, tanyakan dalam hati: “Apakah kata-kata yang saya tulis ini membawa kebaikan atau justru menyakiti orang lain?”

Kedua, jagalah wajah manusia – wajah sesama dan wajah diri kita sendiri. Jangan merendahkan atau mempermalukan sesama, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Kadang satu komentar kasar dapat melukai hati seseorang dengan sangat dalam. Sebaliknya, satu kata penghiburan dapat memberikan harapan besar bagi orang lain.

Ketiga, bangunlah komunikasi yang baik dengan Allah melalui doa. Dari doa, hati kita dibentuk menjadi lebih sabar, lebih bijaksana, dan lebih peka terhadap sesama. Orang yang dekat dengan Tuhan akan lebih mampu menjaga tutur kata dan sikap hidupnya.

Keempat, jadilah pewarta kebaikan di tengah dunia komunikasi modern saat ini. Gunakan handphone, media sosial, dan berbagai sarana komunikasi untuk menyebarkan harapan, kebaikan, dan iman, bukan kebencian dan permusuhan.

Hari Komunikasi Sedunia mengingatkan kita bahwa di balik setiap pesan, komentar, dan perkataan kita, selalu ada manusia yang memiliki hati dan martabat. Karena itu, marilah kita menjaga suara kita agar menjadi suara kasih dan kebenaran. Marilah kita menjaga wajah sesama kita agar tetap dihormati dan dihargai sebagai citra-gambaran Allah.

Semoga melalui doa, perkataan, dan tindakan kita sehari-hari, kehadiran kita sungguh menjadi berkat bagi keluarga, Gereja, dan masyarakat.