Kumba, Ruteng, Manggarai

PAROKIKUMBA.ORG Di bawah cuaca senja yang cerah, pesawat American Airlines landing mulus di Bandara Washington DC, 7 Agustus 2024. Salah seorang penumpang di antara ratusan lainnya adalah Veronika Kurnyangsi. Setelah melewati penerbangan yang jauh dan cukup lama dengan Qatar Airways dari Jakarta menuju Qatar dan transit sesaat lalu melanjutkan dengan American Airlines, Veni, sapaan akrabnya, menjejakkan kaki pertama kali di negeri Paman Sam, Amerika Serikat.

Sejak kecil, guru yang mengajar di TK Santa Angela (samping Gereja Kumba), ini tak pernah mengimpikan, bila suatu saat bisa berada di Amerika. Di penerbangan itu tak satu pun penumpang yang dikenalnya. “Sempat deg-degan, ada sedikit rasa takut karna ini menjadi perjalanan pertama yang jauh dan sendiri,” kenangnya. Tapi, semuanya berjalan lancar, tak ada kendala termasuk saat pemeriksaan ketat di imigrasi bandara. Bagai mimpi, ia pun merasakan surprise bisa berada di Amerika.

Lahir di Ruteng pada 15 November 1986, dari pasutri Nikolaus Jemali (almarhum) dan Susana Ngidul, Veni adalah anak sulung dari 4 bersaudara. Bersama keluarganya ia tinggal di KBG Don Bosco Wilayah Emaus di Paroki Kumba. Ia alumi TK Gembala Baik, SDK Kumba I, SMPN I dan SMAN I Langke Rembong serta Prodi Fisika Unika Widya Mandira Kupang.

Setelah meraih gelar sarjana, pada tahun 2011-2013 ia mengajar di SMP Pelita Hati, Kupang dan NGO Yayasan Mitra Imadei Jakarta (2013-awal 2015). Dari Jakarta ia kembali lagi ke Kupang bekerja serabutan, freelance sebagai guru privat, menjadi staf administrasi dan finance di sebuah kantor CV, dan juga penggerak literasi anak di lingkungan tempat tinggalnya.

Veni saat mengikuti Christmas Tour ke Kantor Berita Voice of America (VoA) di Washington DC pada Bulan Desember 2024 setelah dari White House. Selama studi di Amerika ia juga banyak mengunjungi berbagai tempat bersejarah. (Foto : DOK. PRI)

Menuju Bumi Cendrawasih

Meskipun ia menikmati pekerjaannya, namun masih terasa ada ‘tujuan’ yang belum diraih dan sreg sesuai talenta dan impian hati. Di tengah kesibukannya ia sering berselancar di internet mencari peluang beasiswa yang mungkin bisa diraih. Passionnya di bidang pendidikan, dan itulah yang membuat dirinya sering merasa masih ada yang ‘kurang’.

Tahun 2017 ia lalu ‘berjumpa’ dengan sebuah flayer ajakan menjadi Guru Penggerak di daerah terpencil di Tanah Papua, kerja sama Pemkab Mapi – Papua dan Universitas Gajah Mada. Veni langsung tertarik dan melamar sebagai guru bidang studi Sains SMP. Setelah melalui berbagai tes, seperti administrasi,  wawancara, dan micro-teaching, ia dinyatakan lulus seleksi.

Bulan Desember 2017, ia berangkat menuju Papua. “Saya punya cita-cita menjadi guru di daerah pedalaman. Dan saya bersyukur ini menjadi kejutan luar biasa yang saya rasakan,” kisah Veni. Di daerah pedalaman Papua, ia dihadapkan pada kenyataan ada banyak Sekolah Dasar tapi tidak ada guru yang mengajar. Bersama teman guru penggerak dari provinsi lain, ia mengajar di SDI Mopio, Distrik Venaha di Kabupaten Mapi. Di sekolah terpencil ini selama 2 tahun Veni mengajar murid yang dicintainya.

Dari distrik menuju ke kampung tempat lokasi sekolah ini berada ditempuh dengan perahu melintasi perairan selama 8 jam melewati Kali Digul dan Kali Edra. Tak hanya akses transportasi yang minim (hanya lewat perairan/kali), bahkan listrik dan jaringan internet pun tidak ada. Sebuah perkampungan pedalaman yang sangat terpencil. Sejak dibangun 12 tahun sebelumnya, sekolah ini tidak berjalan optimal. Guru yang pernah mengabdi  memilih untuk ‘tidak datang lagi’ dan meninggalkan 80an murid.

“Ruang kelasnya dari papan dan banyak yang bolong. Atapnya juga banyak yang bocor. Hanya ada tiga ruang kelas, itu pun meja kursi tidak ada. Beberapa meja kursi di simpan oleh warga sekitar sekolah dan saya bersama teman-teman lalu mengunjungi mereka untuk minta dikembalikan ke sekolah. Saya mengajar 40 murid, dari yang berusia 7 sampai 17 tahun. Rata-rata mereka belum bisa baca-tulis karena jarang ada kegiatan belajar-mengajar. Saya merasa tertantang dengan situasi ini. Saya harus mulai dari awal mengajar mereka, seperti bagaimana cara memegang pensil,” kisah Veni.

Veni (tengah) saat berfoto bersama para profesor yang menjadi pengajar di kampusnya selama berada di Amerika. Merekalah yang juga terus memotivasi dan mengapresiasi semua perjuangan studinya di kampus NOVA Community College (Alexandria) Amerika. (Foto : DOK. PRI)

Awal datang ke sekolah ini, Veni bersama 2 guru, satu dari Papua dan satunya lagi dari Jawa. Namun, setahun kemudian ketika pergi berlibur, keduanya tidak kembali lagi ke sekolah tersebut. Tinggal dia sendiri. Dari tahun 2018 sampai 2019 ia mengajar seorang diri. Kepala sekolah pun jarang datang. Guna mempermudah mengajar dan kontrol, seluruh siswa, dari kelas 1 sampai 6 dikumpulkannya dalam satu ruang kelas. “Bila tidak begitu, siswanya sering membolos ke kali dan hutan untuk mencari kebutuhan hidup,” ucapnya.

Di dalam ruang kelas itu, Veni membagi 40 muridnya dalam kelompok-kelompok, sesuai perkembangan kemampuan baca-tulis (mengeja, mengenal huruf, merangkai suku kata) yang mereka miliki. Ada yang duduk di lantai karena kekurangan meja dan bangku. “Yang membuat saya senang, anak-anak itu mengalami perkembangan yang bagus. Saya sempat meneteskan air mata melihat mereka, anak murid saya, sudah mulai bisa mengenal huruf dan membaca. Waktu ada lomba cerdas-cermat, sekolah kami bisa meraih juara dua,” kisah Veni dengan mata berkaca-kaca. Dia mengabdi di sekolah ini dari Desember 2017 sampai Desember 2019.

Pengalaman berada di tengah realitas dunia pendidikan yang penuh keprihatinan sekaligus menyentuh hati itu semakin mendorongnya untuk menekuni pendidikan anak usia dini. Veni menyadari bahwa tahapan pendidikan awal itulah yang menjadi sangat penting. Pendidikan anak di PAUD memanggilnya untuk ‘berpindah’ haluan, meski harus ‘mengorbankan’ ijasah Sarjana Guru Fisika yang pernah diraihnya.

Tahun 2019 ia pulang kampung ke Ruteng, Kabupaten Manggarai. Impiannya untuk lanjut menjadi guru kandas karena pandemi COVID-19 melanda dunia, termasuk Manggarai. Dia pun membangun komunitas literasi yang menyediakan berbagai buku untuk dibaca oleh anak-anak di Ruteng yang waktu itu belajar dari rumah karena pandemi.

Belajar di Amerika

Lika-liku pengabdiannya memajukan pendidikan di Tanah Papua pedalaman dituangkan dalam tulisan berseri di akun Facebook miliknya, dan oleh Komunitas Menulis Indonesia, Veni diajak menjadi anggota, Kegiatan membangun budaya literasi yang sedang digelutinya kala itu mendapat banyak suport dari teman lain di komunitas tersebut yang ikut membantu mengirimkan banyak buku.

Selama pandemi Covid, ia berjalan dari rumah ke rumah mengantar buku bacaan yang dipesan anak-anak sekolah. Ia juga pernah menjadi penyiar volunter di Radio Manggarai FM di Ruteng.

Tahun 2022 paska pandemi, ia melamar sebagai volunter di PAUD Santa Angela, sekolah yang baru dibuka ketika itu, dikelola para Suster Ursulin (OSU) di Ruteng. Tekad hatinya semasa masih di Papua untuk menjadi guru PAUD coba diwujudkannya. Ia pun mulai mengajar anak PAUD. “Saya mulai merasa inilah passion saya. Saya merasa ini penting karena menjadi dasar bagi pendidikan berikutnya. Fondasinya dimulai dari PAUD,” kata Veni.

Veronika Kurnyangsi berfoto saat berpartisipasi dalam acara Asian and Pacific Island Catholic Marian Pilgrimage di Amerika bersama para peziarah dari Indonesia. Ia mengenakan busana adat Manggarai, seperti songke, selendang, dan bali-belo. Sejak kecil ia telah mengenal devosi kepada Bunda Maria dan berdoa rosario. (Foto : DOK. PRI)

Sambil mengajar, ia belajar otodidak cara menjadi Guru PAUD melalui pelatihan yang tersedia di platform digital (online). Tahun 2023, dari sebuah situs internet, ia mendapat informasi tawaran beasiswa kursus bahasa Inggris dari pemerintah Negeri Kanguru, yakni English Languge Training Assistance (ELTA).

Kursus ini guna mendapatkan sertifikat TOEFL dan IELTS. Veni berhasil ‘tembus’ dalam program kelas 4 bulan itu dan bergabung dari September-Desember 2023 di Kupang. Berkat sertifikat bahasa Inggris inilah Veni di kemudian hari bisa berada di Amerika.

Bersamaan dengan mendapatkan sertifikat tersebut, dibuka pula program Community College Initiative Program (CCIP). Dari para sahabat di kursus ELTA, ia mendapat kabar tentang program beasiswa AMINEF bagi orang yang ingin belajar beda jurusan yang pendaftarannya tersisa 2 minggu lagi. “Sinkron dengan pilihan dan rencana saya, studi Fisika tapi ingin menekuni Pendidikan Anak Usia Dini,” ungkapnya.

Sepulang dari Kupang, medio Desember 2023, disiapkannya semua berkas yang diperlukan untuk mendaftar. “Semua ijasah sekolah dan sarjana harus diterjemahkan ke bahasa Inggris, syukur bisa dibantu jalan keluarnya oleh teman ELTA yang ada di Jogya. Saya berusaha supaya semuanya bisa dibuat sesuai yang dipersyaratkan.  Lalu, seijin atasan, Suster di PAUD Santa Angela, saya mengirimkan berkas aplikasi program beasiswa itu” tuturnya.

Merayakan kelulusan di depan Gedung Capitol di Washington DC setelah menyelesaikan studinya di kampus NOVA Community College, Alexandria, Amerika selama 10 bulan merupakan kenangan, kebanggaan, dan wujud syukur. Bagi Veni memperoleh beasiswa ke negeri Paman Sam merupakan rahmat Tuhan yang didapatnya dari senuah perjuangan yang panjang dan kecintaannya pada anak-anak usia dini. (Foto : DOK. PRI)

Lolos seleksi administrasi, Veni diundang mengikuti interview di Jakarta dan semua berjalan lancar sehingga pada bulan Juni 2024 ia mengikuti orientasi sebelum keberangkatan ke Amerika. Ia lalu terbang untuk belajar di kampus NOVA Community College (Alexandria) selama 10 bulan.

Sejak Agustus 2024 sampai Mei 2025 ia belajar banyak hal di negeri Paman Sam. “Berada di sana saya berusaha adaptasi. Dari NTT kami hanya  dua orang, saya dan teman satunya lagi dari Kupang. Di kampus ini kami ada tujuh orang. Ada yang belajar tentang bisnis, komunikasi informasi dan lainnya.”

Veni mengambil konsentrasi Pendidikan Anak Usia Dini, sebagaimana impiannya saat menjadi guru di Papua. Di kampus ini, Veni dan 7 teman lain dari berbagai daerah di Indonesia dan negara lainnya mengikuti kuliah dan di luar waktu mereka magang, juga melakukan kegiatan voluntering. Ia magang di sebuah pre-school (setara PAUD) selama 8 bulan dan di beberapa tempat lainnya, termasuk bergabung dengan komunitas orang Indonesia di Amerika dan keluarga Katolik Indonesia yang ada di Washington DC.

Selama berada di Amerika ia juga ikut anjangsana ke sejumlah tempat bersejarah, di antaranya Kennedy Center, White House, dan Monumen Pentagon City mengunjungi makam para korban tragedi 11/11.

Bersama rekan seprofesi, dan juga Vikaris Parokial Paroki Kumba RD Rino Apul, tampak Veni (berdiri di barisan belakang) saat merayakan acara pelepasan siswa Angkatan ke-3 yang telah menamatkan pendidikannya di TK Santa Angela Ruteng. Sejak kepulangannya dari Amerika yang mendalami khusus Pendidikan Anak Usia Dini, ia semakin happy sebagai seorang pendidik dan lebih memahami dunia anak yang penuh ceria. (Foto : DOK. PRI)

Kembali Mengabdi untuk Anak-Anak PAUD

Kembali dari Amerika hingga saat ini, Veni terus menekuni profesi sebagai guru di PAUD/TK Santa Angela. “Saya merasa banyak mendapat pencerahan, terutama saya menjadi lebih memahami dunia anak dengan lebih baik,” tuturnya.

Orang tua, lanjut Veni, harus mengenal anaknya dengan baik. “Kalau mengenal baik anak-anak kita, orang tua pasti mengerti setiap tahapan perkembangan anak mereka. Bagaimana merespon anak, itu yang juga penting. Orang tua merespon dengan baik sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan anak. Jangan mengharapkan anak untuk berbuat sesuai dengan ideal atau harapan orang tua,”

Menurut dia, menjadi orang tua merupakan sebuah pekerjaan yang berat. Kebanyakan orang tua, lanjut dia, suka memaksakan kehendak dan pikirannya agar diikuti atau dilakukan oleh anak-anak.

“Kalau kita tahu dengan baik dan bijkasana, kita bisa merespon dengan baik pula apa yang mereka (anak-anak) butuhkan sesuai tahapan perkembangan mereka. Kecenderungan orang tua suka marah pada anak-anak karena kurangnya pengertian tentang dunia anak dan segala dinamika perkembangannya. Secara emosional, misalnya, sebagai guru saya jadinya lebih enjoy berada bersama mereka sebagai guru,” ujarnya.

Kisah hidup Veni menyadarkan kita, bahwa tak ada yang mustahil bila semua karya dan pelayanan dijalankan dengan ketulusan hati dan pengabdian tanpa pamrih. Pengabdiannya di tengah keterbatasan sebagai Guru Penggerak di pedalaman Papua telah membawanya jauh ke Negeri Paman Sam.

Pernah berada di tengah potret pendidikan yang pedih di pedalaman Bumi Cendrawasih telah ‘membangunkan’nya untuk meraih asa menjadi guru PAUD. Saat doa itu terwujud, ternyata tak hanya sekadar menjadi guru PAUD, ia pun dianugerahi bonus yang tak pernah terpikirkan: bisa memperdalam ilmu dan berpraktek sebagai guru PAUD di Amerika. (Jimmy Carvallo)