Foto: Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi, Karot RP Bonaventura Lelo, OFM, Pengurus DPP St. Mikael, Kumba dan para pekerja pembangunan gapura perbatasan kedua paroki berfoto bersama seusai perampungan pekerjaan gapura, Sabtu siang, 4 Juli 2026. (Foto: PAROKIKUMBA.ORG)
PAROKIKUMBA.ORG – Akhir pekan pertama Bulan Juli 2026, sebuah gapura berbahan baja ringan dan besi menjulang dan serentak menarik perhatian para pengendara dan orang-orang yang melewatinya. Gapura setinggi 6 meter, ini menjadi penanda perbatasan antara Paroki St. Mikael Kumba dan Paroki St. Fransiskus Asisi Karot.
Tak sekedar sebagai penanda, gapura tersebut juga menjadi “pintu gerbang bersama” antara umat kedua paroki sebagaimana dituturkan Ketua Pelaksana DPP St. Fransiskus Asisi Karot Mansuetus Tatus,”Ini menjadi ‘pintu gerbang bersama’ umat di kedua paroki yang sejak lama telah memiliki ikatan batin dan semangat iman serta kerja sama yang sangat baik dalam event-event gerejani.”

Jajaran pengurus DPP Santu Mikael Kumba berfoto bersama saat meninjau dari dekat kesiapan finishing pembangunan gapura perbatasan antara Paroki Karot dan Paroki Kumba pada Sabtu pagi, 4 Juli 2026. (Foto: PAROKIKUMBA.ORG)
Sabtu siang, 4 Juli 2026 gapura yang dikerjakan selama sebulan lebih ini berdiri tegak tepat di perbatasan kedua paroki, yakni di KBG Eklesia Wilayah Kana Paroki Kumba dan KBG Santu Dominikus Wilayah Betlehem Paroki Karot. Pada bagian atas kedua tiang penyanggah yang menyerupai ‘tower’ membentang 2 deretan kata-kata, masing-masing di sisi barat bertuliskan ‘Selamat Datang di Paroki Santu Mikael Kumba dan Kelurahan Satar Tacik’ dan pada sisi timur tertulis ‘Selamat Datang di Paroki Santu Fransiskus Asisi Karot’.
Pengerjaan tahap akhir berupa pemasangan plang ucapan Selamat Datang yang dicat berwarna kuning pada lempengan almunium, ini dihadiri langsung jajaran pengurus DPP Kumba dan Pastor Paroki Karot RP Bonaventura Yulius Lelo, OFM, Vikaris Parokial RP Rio Edison, OFM, dan Ketua Pelaksana DPP. Sekitar 20 orang terlibat dalam pekerjaan tersebut, umat di kedua KBG perbatasan dan pata Ketua RT.

Detik-detik saat pemasangan plang yang bertuliskan Selamat Datang di Paroki Santu Mikael Kumba dan Kelurahan Satar Tacik dan Selamat Datang di Paroki Santu Fransiskus Asisi Karot yang dikerjakan secara bergotong-royong oleh umat yang bermukin di sekitar perbatasan kedua paroki. (Foto: PAROKIKUMBA.ORG)
“Kami sambut gembira bangunan gapura ini. Terima kasih untuk Pastor Paroki Kumba, Romo Vikaris, dan DPP yang sudah mengambil inisiatif membangun gapura tersebut. Selama ini dalam prosesi-prosesi bersama antar paroki, lokasi ini menjadi tempat penjemputan atau penerimaan bagi umat kedua paroki. Dengan dibangunnya gapura ini, akan semakin menarik dan memberikan daya pikat saat prosesi mencapai batas paroki,” ujar RP Bovan, sapaan akrab RP Bonaventura, OFM.
Pastor Paroki St. Mikael Kumba RD Kornelis Hardin, sehari sebelum dilakukan finishing gapura tersebut, kepada media ini menuturkan, gapura sebagai pembatas wilayah paroki dilihat sebagai hal yang baik dan penting mengingat perkembangan umat begitupun pembanguan rumah – rumah yang semakin menjamur termasuk yang ada di sekitar perbatasan paroki.

Jajaran pengurus DPP Santu Mikael Kumba dan para pekerja serta Pastor Paroki Santu Fransiskus Asisi Karot RP Bonaventura Lelo, OFM berfoto bersama di bawah gapura dari sisi timur yang tampak tulisan Selamat Datang di Paroki Santu Fransiskus Asisi Karot. (Foto: PAROKIKUMBA.ORG)
“Tahun lalu, saat ikut mempersiapkan penerimaan arca Bunda Maria Ratu Rosari yang diprosesikan dalam Festival Golo Curu, kami ngobrol dengan umat KBG Eklesia ini dan saya menawarkan bagaimana kalau di perbatasan antar paroki kita dengan Paroki Karot dibangun gapura. Mereka semua menyambut gembira dan kemudian dalam pembicaraan dengan DPP, DKP, dan pengurus Wilayah Kana dan KBG Eklesia akhirnya gapura ini dibangun,” tutur RD Dino.
Tak hanya bergotong-royong memasang gapura, umat pun antusias menyukseskan pembangunannya. Salah satunya, Lasarus Gani, umat KBG Eklesia yang rumahnya berdiri tepat diperbatasan paroki. Ia menghibahkan tanah di halaman depan rumahnya berukuran 1X1 meter persegi untuk menancapkan tiang gapura. Gapura ini juga sekaligus menjadi pembatas wilayah admistrasi Kelurahan Satar Tacik dan Kelurahan Karot. Paroki Karot juga ikut berkontribusi dalam kegiatan pemasangan gapura.

Ketua Pelaksana DPP Santu Mikael Kumba Jeman Agustinus, Pastor Paroki Karot RP Bovan, OFM bersama umat di kedua KBG perbatasan yang mengambil bagian dalam pekerjaan pemasangan gapura bergembira setelah pekerjaan gapura rampung pada Sabtu siang, 4 Juli 2026. (Foto: PAROKIKUMBA.ORG)
Di perbatasan antara kedua paroki inilah selama 4 tahun terakhir pelaksanaan Festival Golo Curu dan Prosesi Sakramen Maha Kudus 7 paroki Gugus Kota Ruteng selalu menjadi titik kumpul umat yang membludak menyambut prosesi. Ritus adat dan tarian budaya Manggarai yang semarak di antara nyala ribuan lilin dan ratusan panji KBG, kelompok kerasulan, dan bendera Indonesia – Vatikan selalu mewarnai lpkaso tersebut dan menarik perhatian para peziarah.
Tiga bulan lagi, event religi dan budaya Festival Golo Curu ‘Maria Ratu Rosari’ akan dihelat. Seiring festival yang semakin mendunia tersebut masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), prosesi meriah arca Bunda Maria dari Paroki St. Fransiskus Asisi, Karot menuju Paroki St. Mikael, Kumba akan menjadi istimewa. Di batas kedua paroki, di gapura artistik yang baru dibangun itu, akan menjadi saksi sejarah dilewati Sang Bunda Ratu Rosari di tahun festival penuh apresiasi yang dibingkai sebagai KEN. [Jimmy Carvallo]



