Oleh: Sr. Florensia Imelda Seran, SCSC | Biarawati di Kongregasi Suster-Suster Katekis Hati Kudus, Ruteng – Flores
Saat kita mendekati akhir tahun, kita dihadapkan pada momen refleksi yang dalam dan bermakna. Dalam tradisi Kristen, ungkapan “Memento Mori”, yang berarti “Ingatlah bahwa kamu akan mati,” mengajak kita untuk menyadari bahwa hidup ini bersifat sementara. Setiap detik yang kita miliki adalah anugerah dari Tuhan, dan kita dipanggil untuk memanfaatkannya sebaik mungkin.
Kehidupan di dunia ini adalah perjalanan yang penuh dengan pengalaman, baik suka maupun duka. Namun, seringkali kita terjebak dalam rutinitas sehari-hari, melupakan bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk bertumbuh dalam iman dan kasih. Seperti yang diungkapkan oleh St. Agustinus, “Kita adalah peziarah di dunia ini, dan tujuan kita adalah kembali kepada Tuhan.” Kesadaran akan kefanaan ini seharusnya mendorong kita untuk tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.
Selagi kita masih diberi waktu, mari kita berbuat baik dan menyebarkan kasih sebanyak mungkin. Dalam suratnya, Santo Paulus mengingatkan kita, “Dan sekarang tetap tinggal tiga hal, yaitu iman, pengharapan, dan kasih. Tetapi yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Korintus 13:13). Kasih adalah inti dari ajaran Kristus, dan kita dipanggil untuk menghidupinya dalam setiap tindakan kita. Setiap kebaikan yang kita lakukan, sekecil apapun, adalah cara kita untuk mencerminkan kasih Tuhan kepada sesama.
Ketika kita merayakan pergantian tahun dengan bunyi petasan yang menggema, ada makna yang mendalam yang tersembunyi dibaliknya deru dentum bunyi yang bersahutan. Bunyi petasan bukan hanya sekadar ungkapan kegembiraan, tetapi juga ungkapan syukur dan harapan. Dalam setiap ledakan yang terdengar, kita diingatkan untuk mengucapkan terima kasih atas tahun yang telah berlalu, atas segala berkat dan pelajaran yang telah kita terima. Setiap dentuman petasan bisa menjadi doa yang terangkat ke surga, mengungkapkan rasa syukur kita kepada Sang Pemberi Hidup yang telah menemani ziarah hidup kita.
Akhir tahun adalah waktu untuk bersyukur atas segala berkat yang telah kita terima. Dalam suratnya, Santo Yakobus mengingatkan kita, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas, dari Bapa segala cahaya” (Yakobus 1:17). Dengan bersyukur, kita mengakui kedaulatan Tuhan dalam hidup kita, serta menyadari setiap kesempatan baru untuk bertumbuh dalam iman.
Pengharapan adalah bagian penting dari perjalanan kita. Seperti yang dikatakan oleh St. Thomas Aquinas, “Harapan adalah jembatan antara keinginan kita dan realitas yang dijanjikan oleh Tuhan.” Dalam setiap tantangan dan kesulitan, kita tetap berharap dan percaya bahwa Tuhan selalu menyertai kita.
Tradisi menyalakan petasan di malam penutupan tahun dilihat sebagai simbol harapan. Seperti cahaya petasan yang menyala dan membakar kegelapan malam, demikian pula harapan kita akan masa depan bersinar. Tahun baru adalah kesempatan untuk memulai kembali, untuk memperbaiki diri, dan untuk mengejar tujuan yang lebih tinggi dalam hidup kita.
Saat ledakan petasan sahut menyahut dan berdentum, izinkanlah suara itu menjadi penanda doa-doa kita. Setiap dentuman mengiringi ungkapan syukur dan permohonan untuk tahun yang berlalu dengan segala berkat dan pelajaran hidup yang diperoleh, dan permohonan serta perlindungan untuk tahun baru agar penuh berkat. Selain itu, di setiap dentuman petasan, ingatlah mereka yang kita kasihi; semoga kasih Tuhan menyertai langkah kita di tahun yang baru. Mari kita jadikan setiap ledakan sebagai pengingat akan panggilan kita untuk mencintai dan melayani.
Di penghujung tahun ini, sadarilah bahwa hidup ini sementara, dan kita dipanggil untuk memanfaatkan waktu yang ada untuk berbuat baik dan menyebarkan kasih. Memento Mori, bukanlah sebuah ungkapan yang menakutkan, tetapi sebuah panggilan untuk hidup dengan kesadaran akan tujuan yang lebih tinggi. Mari kita sambut tahun baru dengan hati yang penuh syukur dan harapan yang dibaharui, siap untuk melayani Tuhan dan sesama, dan terus berusaha untuk hidup dalam kasih. Dengan demikian, kita akan menemukan makna sejati dari kehidupan ini dan mempersiapkan diri untuk persekutuan yang kekal dengan Tuhan di surga.
Setiap ledakan petasan adalah pengingat bahwa kita tidak sendirian dalam perjalanan ini; Tuhan selalu bersama kita, dan setiap momen adalah kesempatan untuk menghargai hidup yang telah diberikan kepada kita. Mari kita melangkah ke tahun baru dengan semangat baru, siap untuk menjalani hidup yang penuh makna dan kasih kepada Tuhan dan sesama. Sebab, setiap detik yang kita lewati adalah anugerah terindah yang diperoleh tanpa jerih payah dan lelah keringat kita.
Seperti yang diungkapkan oleh St. Teresa dari Avila, “Hidup ini adalah perjalanan menuju Tuhan, dan setiap langkah yang kita ambil adalah kesempatan untuk mendekat kepada-Nya.” Dengan kesadaran ini, marilah kita syukuri dan syukuri selalu setiap berkat yang ada, baik yang besar maupun yang kecil, karena dalam setiap detik kehidupan kita, terdapat kasih dan rahmat Tuhan yang tak terhingga. Amin.

