Kumba, Ruteng, Manggarai

PAROKIKUMBA.ORGKonteks sosial, budaya, dan pastoral yang dihadapi Gereja beserta tantangannya  – termasuk di Gereja lokal/keuskupan kita – semakin kompleks dan beragam dan tidak lagi dapat dijawab secara memadai melalui pendekatan seragam, sentralistis atau semata-mata normatif. Model pastoral yang bertumpu pada logika satu arah, dari atas ke bawah, semakin memperlihatkan keterbatasannya, bahkan beresiko menciptakan jarak antara struktur Gereja dan pengalaman konkret umat beriman.

Hal ini dikatakan Sekretaris Jenderal Keuskupan Ruteng RD Dr. Rikardus Moses Jehaut saat menyampaikan materinya berjudul Refleksi Teologis Gereja Kontekstual Sinodal pada Sidang Sinode IV Keuskupan Ruteng Sesi I di Aula St. Yohanes dari Salib, Rumah Retret Wae Lengkas, Rabu pagi, 7 Januari 2026. Pada hari ke-3 sidang Sinode, ini Ketua STIPAS Santu Sirilus Ruteng itu menjadi pembicara/narasumber pertama kegiatan yang berlangsung hingga malam hari.

Menurut RD Ardus, sapaannya, diperlukan suatu cara menggereja yang mampu mendengarkan, membedakan, dan berjalan bersama, tanpa kehilangan kesetiaan pada Injil dan Tradisi Gereja serta Magisterium. “Oleh karena itu dibutuhkan refleksi teologis yang menyegarkan pemahaman tentang sinodalitas sebagai cara mengada dan cara bekerja Gereja,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Keuskupan Ruteng RD Rikardus Moses Jehaut saat menyampaikan materinya tentang Refleksi Teologis Gereja Kontekstual Sinodal pada Sidang Sinode IV Keuskupan Ruteng Sesi I di Aula Yohanes Salib, Rumah Retret Wae Lengkas di Ruteng, Rabu, 7 Januari 2026. (Foto : KOMSOS KR)

Refleksi teologis ini, lanjut dia, berpijak pada satu tesis mendasar, yakni Gereja kontekstual hanya sungguh terwujud sejauh Gereja hidup secara sinodal, dan sinodalitas menemukan bentuk konkret, daya uji, serta relevansinya dalam kehidupan Gereja lokal.

“Secara biblis, sinodalitas menemukan dasarnya dalam cara Allah sendiri membimbing umatNya. Berjalan bersama sebagai bentuk ketaatan iman terhadap Allah yang menyertai, menuntun, dan berbicara di tengah perjalanan umat,” tambahnya.

Gereja Menghayati Jati Diri

Menyinggung tentang Dasar Kristologis sebagai Fondasi Teologis Sinodalitas, RD Ardus mengatakan, Yesus membentuk para murid bukan melalui instruksi sepihak, melainkan melalui kebersamaan hidup. Ia memanggil mereka untuk menyertaiNya, berjalan bersamaNya, belajar dalam relasi dialog dan bahkan dalam kegagalan.

“Ketegangan dan ambisi para murid diolah sebagai bagian dari proses pemuridan. Kepemimpinan Yesus menyingkapkan pola pelayanan yang membentuk komunitas, bukan dominasi yang mematikan dinamika bersama,” tuturnya.

RD Ardus menuturkan, Sejak Konsili Vatikan II, Gereja semakin menyadari bahwa sinodalitas bukan sekadar sarana pastoral melainkan cara Gereja menghayati jati dirinya dan melaksanakan perutusannya. “Paus Fransiskus menjelaskan bahwa pelaksanaan sinodalitas harus ditemukan pada semua tingkat kehidupan Gereja: lokal, regional, dan universal. Pada tingkat lokal, sinodalitas dijumpai dalam ‘organ-organ persekutuan’ Gereja-gereja partikular, seperti dewan presbyteral, Colegium konsultors, dewan pastoral, dan lain sebagainya.”

Sinodalitas, kata RD Ardus, merupakan unsur konstitutif Gereja, di mana sinodalitas menyingkapkan pelayanan sebagai otoritas untuk melayani, dan kuasa sebagai kuasa salib, sinodalitas melibatkan seluruh umat Allah, menuntut sikap saling mendengarkan, meskipun sinodalitas mudah diungkapkan tetapi tidak semudah itu dilaksanakan. Sinodalitas juga harus ditemukan pada semua level kehidupan Gereja, dan diharapkan berkontribusi membangun masyarakat sipil yang berlandaskan keadilan dan persaudaraan.

Peserta Sidang Sinode IV Keuskupan Ruteng Sesi I sedang berdiskusi kelompok untuk pendalaman materi yang direfleksikan dalam sidang tersebut. Sidang berlangsung selama 4 hari dari 5-8 Januari 2026 dan diperkaya dengan berbagai materi dari sejumlah narasumber berkompeten di bidangnya. (Foto : KOMSOS KR)

Merujuk Sinode Para Uskup tentang Sinodalitas (2021-2024), lanjut dia, sejumlah pokok pikiran utama telah dirumuskan dalam Dokumen Final Sinode, seperti: sinodalitas sebagai identitas Gereja, bukan sekadar metode, Roh Kudus sebagai Subyek Utama proses Sinodal, Mendengarkan sebagai Tindakan iman yang terarah pada pembedaan rohani, seluruh umat Allah adalah subyek aktif Gereja, Relasi sinodal antara Partisipasi dan Otoritas, dan Sinodalitas sebagai Jalan Pembaruan dan Misi Gereja.

“Juga ada tiga pilar Gereja Sinodal yakni komunio, partisipasi, dan perutusan. Komunio sebagai dasar persekutuan umat Allah, partisipasi sebagai wujud keterlibatan seluruh umat beriman, dan perutusan sebagai orientasi keluar Gereja di tengah dunia. Ketiga dimensi ini saling menjiwai dan menjadi kriteria evaluatif hidup sinodal,” ujar RD Ardus.

Pastoral Integral Buah Sinodalitas yang Hidup

RD Ardus juga menegaskan, Pastoral Integral yang sudah dan sedang dijalankan dalam konteks Gereja Keuskupan Ruteng, patut disyukuri sebagai buah sinodalitas yang hidup. Namun justru karna ia hidup, pastoral integral tidak pernah selesai; ia menuntut pembaruan terus menerus agar tetap peka terhadap perubahan konteks zaman dan setia pada tuntunan Roh Kudus.

Peserta Sidang Sinode IV Keuskupan Ruteng datang dari berbagai latar belakang atau lintas profesi, unsur Pemerintah Daerah, kelompok sosial dan adat, serta ibu rumah tangga yang bersama para imam dan religius mereka berjumpa dalam semangat persaudaraan di Rumah Retret Wae Lengkas di Ruteng. (Foto : KOMSOS KR)

“Dalam kerangka pastoral integral, kehidupan dan perutusan Gereja dipahami secara utuh dalam terang panca tugas Gereja: kerygma (pewartaan), leiturgia (liturgi), koinonia ( persekutuan), diakonia (pelayanan), dan martyria (kesaksian hidup). Kelima dimensi ini tidak berdiri sebagai sektor-sektor terpisah atau program-program paralel, melainkan membentuk satu dinamika perutusan Injil yang saling menjiwai,” ucap RD Ardus.

Ia mengatakan, dengan menghidupi sinodalitas secara kontekstual, Gereja menemukan bahwa kesetiaan pada Injil tidak menjauhkannya dari dunia, tetapi justru memampukannya hadir secara lebih inkarnatoris, relevan dan transformatif. “Gereja kontekstual yang sinodal bukan visi ideal di atas kertas, melainkan jalan nyata Gereja untuk terus diperbarui dan setia pada perutusannya di tengah dunia,” ujarnya. (Jimmy Carvallo)