Kumba, Ruteng, Manggarai

Foto : Tim Trauma Healing dari Politeknik El Bajo Commodus – Labuan Bajo sedang menghibur anak-anak SD separoki Kumba yang berada di sisi timur Gereja Santu Mikael, Minggu, 6 September 2026. Kegiatan ini dihadiri lebih dari seribu anak dan terbagi dalam 2 titik kumpul di sekitar halaman Gereja. (Foto: KOMSOS PSMK)

PAROKIKUMBA.ORGLebih dari seribu anak Taman Kanak-Kanak (TKK) dan Sekolah Dasar (SD) yang ada di 99 Komunitas Basis Gerejani (KBG) di Paroki Kumba mengikuti kegiatan Trauma Healing, Minggu, 6 September 2026. Acara ini digelar di pelataran Gereja Santu Mikael Kumba sebagai bentuk kerja sama antara Seksi Anak DPP Kumba, Politeknik El-Bajo Commodus dan Kado Bajo.

Kegiatan ini merupakan salah satu dari rangkaian program pemulihan pasca gempa bumi Flores yang ada di Paroki Kumba. Sebelumnya telah pula disalurkan 1.096 paket sembako dan terpal kepada keluarga terdampak serta pelayanan kesehatan gratis. Seluruh proses respon cepat atas tragedi bencana gempa bumi Pulau Flores yang terjadi ada 15 Agustus 2026 tersebut merupakan upaya dan kerja keras Pastor Paroki, Vikaris Parokial, dan DPP untuk umat terdampak.

Anak-anak TKK dan SD Separoki Kumba saat sedang menanti dimulainya acara Trauma Healing di halaman Gereja Kumba pada Minggu, 6 September 2026. Kegiatan ini didampingi oleh belasan tim trauma healing dari Politeknik El Bajo Commodus, Labuan Bajo. (Foto: KOMSOS PSMK)

“Kami melihat penting sekali untuk membantu pemulihan psikososial anak pasca gempa melalui trauma healing yang dilaksanakan hari ini. Gempa bumi yang terjadi telah pula mempengaruhi anak-anak kita di Paroki Kumba secara psikologis. Proses pemulihan psikologis ini semoga bisa mengembalikan anak-anak ke dunia mereka yang ceria” kata RD Dino Hardin Pastor Paroki Kumba saat membuka kegiatan.

Sejak pukul 10.30 seribuan anak-anak antusias dan gembira mengikuti kegiatan ini yang dibimbing belasan tim trauma healing dari Politeknik El Bajo Commodus. Penyembuhan trauma pada anak pasca gempa tersebut diisi dengan berbagai terapi bermain dan animasi menarik, termasuk bernyanyi bersama. Tim juga berbagi kasih berupa Goody Bag untuk semua anak yang hadir.

Salah satu kelompok anak yang mendapatkan pendampingan trauma healing di sekitar Gua Bunda Maria di kompleks Gereja Kumba. Mereka antusias dalam bernyanyi, bermain, dan bercerita didampingi oleh tim dari Politeknik El Bajo Commodus dan Seksi Anak DPP Kumba. (Foto: KOMSOS PSMK)

“Kami senang sekali karna anak-anak kami dari KBG bisa mengikuti kegiatan trauma healing ini. Kasihan mereka, karna setelah gempa besar itu, sampai sekarang kalau ada gempa susulan mereka biasa panik dan takut. Di alam terbuka di halaman Gereja ini, saya lihat mereka semua ceria dengan teman-teman. Tim yang berikan trauma healing juga bagus, mereka dekat dengan anak-anak dan bermain sama-sama dengan anak-anak,” kata Helmina Tawung, 26 tahun, dari KBG Gaudium Wilayah Taman Eden.

Ditemui di sela kegiatan tersebut, Direktur Politeknik El-Bajo Commodus Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa menjelaskan, dari perjumpaan semua anak dalam trauma healing ini, diharapkan kembali memberikan semangat agar mereka bisa bangkit kembali dari keterpurukan akibat bencana gempa bumi yang terjadi.

Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, Direktur Politeknik El Bajo Commodus dan Pastor Paroki Santu Mikael Kumba RD Kornelis Hardin sedang berbincang-bincang di arena kegiatan trauma healing di kompleks Gereja Kumba. Keduanya adalah penggagas kerja sama sinergis kegiatan ini yang melibatkan seribuan anak SD separoki Kumba. (Foto: KOMSOS PSMK)

“Perasaan traumatik akibat bencana secara mental akan berpengaruh kepada anak-anak. Dengan kegaiatan trauma healing ini kami harapkan mudah-mudahan semua bentuk pengalaman trauma yang dialami anak-anak itu semakin hari semakin berkurang dan mereka menjadi anak-anak yang sehat, normal, dan selalu pantang menyerah dalam tantangan kehidupan,” kata Prof. Nengah.

Ia juga berpesan, agar para orang tua serius memperhatikan pendidikan untuk masa depan anak-anak. “Apa pun peristiwa yang terjadi, orang tua jangan sampai memberhentikan anaknya bersekolah. Sekolah adalah satu-satunya cara untuk memperbaiki nasib anak-anak kita di masa depan. Jadi, dalam kondisi apa pun, termasuk bencana ini, jangan sampai anak-anak putus sekolah karna itulah bekal yang paling berharga untuk masa depan mereka,” ucap Prof. Nengah. 

Berbincang dengan media ini, Ketua Yayasan Bangkit Anak Negeriku Noviana Halim menuturkan, anak-anak adalah generasi masa depan bangsa yang harus selalu mendapatkan perhatian semua orang, apalagi dalam situasi bencana alam seperti gempa bumi yang melanda. “Kita tentu prihatin karna mereka mengalami langsung peristiwa gempa bumi dan anak-anak melihat bagaimana rumah mereka rusak dan retak-retak,” kata Novi.

Ketua Yayasan Bangkit Anak Negeriku Noviana Halim saat berada di lokasi digelarnya kegiatan Trauma Healing untuk seribu anak SD separoki Kumba, Minggu, 6 September 2026. Ia berpesan agar melalui kegiatan psikososial ini para orang tua juga selalu mendukung anak mereka melalui keteladanan hidup. (Foto: KOMSOS PSMK)

Peristiwa gempa bumi yang terjadi pertengahan Agustus lalu, lanjut Novi, meninggalkan luka dan perasaan traumatik dalam diri anak-anak. Melalui kegiatan trauma healing oleh Politeknik El Bajo ini, diharapkan semua anak kembali mendapat dukungan dan penguatan psikososial, disamping juga memberikan perhatian kepada keluarga-keluarga mereka yang terdampak berupa pemberikan pangan (sembako) dan barang kebutuhan lainnya.

“Kita semua tentu sangat prihatin dengan bencana ini. Rasa trauma dalam diri anak-anak ini, kita coba eliminasi. Kami juga menitip pesan untuk para orang tua, bahwa pendidikan anak merupakan yang utama ada dalam keluarga. Karakter anak terbentuk dari orang tua dan lingkungan keluarga. Di sekolah mereka menimba berbagai ilmu. Namun jangan lupa, peranan orang tua sangat besar dalam memberikan teladan atau contoh kepada anak-anak kita,” tutur Novi. []