Kumba, Ruteng, Manggarai

TAK seorang pun pernah membayangkan, bahkan peramal ternama sekalipun, bahwa pagi itu, Sabtu, 15 Agustus 2026, gempa bumi dengan magnitudo 7,7 menghantam Pulau Flores bak sebuah palu godam maha besar yang dijatuhkan ke atas tanah Pulau Bunga itu.

Di pagi yang tenang dan hening, sekitar pukul 05.55 Pulau Flores di Provinsi NTT diguncang gempa bumi tektonik yang terbilang kuat. Serentak, semua orang lari berhamburan, Sebagian masih terlelap tidur, yang lainnya sudah mulai menunggu matahari akhir pekan terbit di ufuk timur.

Gempa yang datang dari episentrum Kabupaten Nagekeo itu pun membuat ratusan ribu penduduk Flores spontan berteriak histeris, menangis pedih, meraung-raung, sambil berdiri beramai-ramai memenuhi jalan raya. Mereka menyaksikan bangunan rumah yang mulai retak, tembok-temboknya yang pecah dan berjatuhan.

Dalam sekejab pemandangan keseharian berubah drastis. Rumah dan fasilitas umum rusak, bahkan banyak yang ambruk tak mampu menahan goncangan sedahsyat itu. Korban pun mulai berjatuhan. Ada yang terluka, patah tulang, bahkan tak sedikit yang menghembuskan nafas terakhir di bawah puing-puing reruntuhan.

Sejak itu, gempa susulan tak pernah diam, Lebih dari 15 ribu kali Pulau Flores terdeteksi digoyang gempa-gempa susulan. Tak hanya bangunan rumah dan gedung ikut menanggung akibatnya, nyawa manusia pun bertambah jumlahnya. Tercatat setidaknya lebih dari 140 meninggal, baik saat terjadinya gempa pun yang sedang berada di tenda-tenda pengungsian.

Data BNPB mengungkapkan ada 46,461 orang mengungsi dan 103,427 rumah rusak. Ini adalah bencana alam dengan dampak kerusakan dan korban yang tak kecil. Pada 12 Desember 1992 gempa bumi dengan magnitudo 7,8 dan tsunami juga pernah melanda Flores. Tragedi itu tercatat dalam sejarah sebagai gempa bumi paling dahsyat dengan korban sekitar 2,500 orang tewas dan ada pula yang hilang.

Bencana alam selalu membawa perasaan traumatik, duka dan luka, juga kecemasan. Jatuhnya korban dan hancurnya infrastruktur menorehkan cerita lara yang tak mudah dilupakan. Ia akan selalu ada dalam memori kolektif manusia, terutama mereka yang terdampak dan para penyintas. Di beberapa tempat, di mana bencana pernah melanda, dibangun semacam memorial untuk mengingatkan: ada peristiwa yang tak boleh dilupakan dari generasi ke generasi.

Bencana alam, seperti gempa bumi yang baru melanda Pulau Flores, tak hanya mengguncang tanah, tapi juga sendi-sendi kehidupan, karna telah merubah banyak hal dengan dampak yang tak mudah dipulihkan kembali. Butuh waktu cukup lama untuk ‘menyembuhkan’ berbagai bentuk kehilangan yang dialami para penyintas. Orang Flores pun, dalam ritme ribuan gempa susulan seakan telah terbiasa hidup bersama bencana.

Di tengah tragedi yang menyayat hati itu, kita boleh berbesar hati karna berbagai bentuk solidaritas kemanusiaan mengalir dari berbagai orang dan tempat, masuk hingga ke tenda-tenda pengungsian, ke pintu-pintu rumah warga terdampak, hingga ke rumah-rumah sakit darurat yang dibangun dalam situasi tanggap darurat.

Dalam ketakutan yang mencekam dan air mata ‘keprasahan’ ratusan ribu warga yang dirundung nestapa bencana ini, belarasa dan solidaritas kemanusiaan mendapatkan panggung mulia. Di abad yang diwarnai kecenderungan menjadikan (sesama) manusia sebagai obyek keserakahan untuk membangun ‘menara babel’ yang duniawi itu, masih menyisahkan banyak orang dengan hati jernih memilih jalan compassion.

Lembaga Caritas dari pusat hingga ke keuskupan, sampai di paroki-paroki, misalnya, menjadi ‘tulang punggung’ pendistribusian lagistik (terutama pangan) tanpa batas, tanpa sekat, dan tanpa estimasi waktu yang membatasi, meski ‘bumi terus berguncang’ tak menyurutkan rasa takut dan gelisah. Bersama bantuan dari jalur pemerintah dan kelompok filantrophi lainnya, mereka terus bergerak bahkan sampai di titik korban yang paling jauh sekalipun.

Sayangnya, kisah heroik itu mesti ternoda oleh ulah satu dua orang yang tak semestinya terjadi. Cerita tentang adanya warga yang menginjak-injak bentuan makanan, juga kekerasan fisik terhadap para relawan kemanusiaan. Belum lagi mulai ramainya pesta pora di tengah situasi di mana sesama (ribuan) orang Flores yang sedang berjuang untuk pulih dari ujian hidup maha berat di tenda-tenda pengungsian, pula yang telah kehilangan sanak-saudara adalah kabar yang sulit dipercaya, tapi nyata. Di tengah keberlimpahan ada yang sedang menanggung kemelaratan pasca bencana.

Kita mestinya sudah tahu, juga menyadari, bahwasanya ujian terbesar dalam keterpukan hidup bersama (karna bencana alam, misalnya) adalah empati yang semakin terasah dan komitmen untuk memuliakan manusia di atas segalanya. Jangan lupa pula, tragedi terbesar dalam kehidupan bukanlah karna musnahnya manusia, tapi musnahnya rasa cinta dalam diri manusia.

Belum terlambat untuk memulai lagi. Kita sudah cukup lelah dengan fenomena gempa bumi yang menyayat hati. Jangan sampai kita terjebak dengan pola kelakuan lama, yang hanya bisa mengumbar rasa prihatin atas semua kehancuran, keporak-porandaan yang terjadi, tapi minus aksi. Jangan sampai kesadaran tentang kemanusiaan kita hanya sebatas NATO. No action talk only.

(Jimmy Carvallo)