Kumba, Ruteng, Manggarai

PAROKIKUMBA.ORGSeksi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (JPIC) DPP Paroki Santu Mikael Kumba bekerja sama dengan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Paroki Kumba menggelar acara Seminar dalam rangka memperingati Kampanye Internasional 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak yang rutin diperingati dari 25 November – 10 Desember setiap tahun.

Seminar mengambil tema ‘Mencegah Bullying di Lingkungan Sekolah’ dan diikuti oleh ratusan siswa yang berasal dari semua Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada dalam wilayah paroki Kumba bersama para guru pendamping. Kegiatan ini diselenggarakan di Aula Paroki Kumba, Kamis pagi, 4 Desember 2025 menghadirkan 3 pembicara, yakni Ketua Komisi Karya Kepausan Indonesia (KKI) RD Benediktus Gaguk, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Manggarai AIPDA Antonius Habun, dan Pengelola Playground Pelangi Narwastu Anggie Ratsih.

Seminar dibuka oleh Vikaris Parokial Paroki Kumba RD Hironimus Apul, mewakili Pastor Paroki. Dikatakan RD Rino, kegiatan ini penting dilaksanakan mengingat bahwa perempuan dan anak merupakan kelompok yang paling rentan dalam kasus kekerasan. Menanggapi kenyataan ini maka Gereja harus tetap selalu menyampaikan suara profetisnya yang juga selalu diikuti dengan tindakan nyata. “Kegiatan yang dilaksanakan hari ini menjadi salah satu contoh nyata bahwa Gereja mau terlibat secara nyata,” ucapnya.

Suasana saat diselenggarakannya Seminar Mencegah Bullying di Lingkungan Sekolah yang diadakan oleh Seksi JPIC DPP Paroki Kumba dan DPC WKRI Paroki Kumba di Aula Paroki Kumba, Kamis pagi, 4 Desember 2025. Seminar ini menghadirkan 3 pembicara dan dibuka oleh Vikaris Parokial Paroki Kumba RD Rino Apul. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Dua moderator memandu kegiatan seminar, ini yakni Ketua Seksi JPIC DPP Paroki Kumba Frans Harmin Si, dan Ketua Bidang Organasi DPC WKRI Kumba Rostan Mutis. “Terima kasih untuk dukungan Pastor Paroki, Pastor Vikaris, DPP dan DKP Paroki Kumba untuk seminar yang sangat strategis ini. Menghadirkan 3 pembicara yang berkompeten pada kesempatan ini memberikan kita semua pemahaman dan langkah konkrit untuk mengatasi bullying di sekolah,” ucap Yustina Ice, Ketua Panitia Seminar yang juga Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) WKRI Paroki Santu Mikael Kumba.

Menjadi Pelopor dan Pelapor

Menjadi pembicara pertama, RD Benediktus Gaguk, akrab disapa Romo Beben mengatakan, anak-anak perlu mengenal pribadi masing-masing sebagai pribadi yang bermartabat yang diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah. “Semua anak, semua orang dilahirkan baik adanya, sehingga citra itu harus dijaga di manapun termasuk di sekolah,” ujarnya.

Dengan anak menyadari diri sebagai pribadi yang baik, RD Beben menuturkan, maka kesadaran itu akan terungkap dalam perilakunya sehingga bullying atau berbagai bentuk kekerasan di sekolah tidak lagi terjadi. “Anak-anak perlu selalu disadarkan bahwa citra baik itu juga menuntut mereka selalu bertingkahlaku baik sehingga segala yang negatif diharapkan tidak terjadi. Yesus menyapa mereka juga dengan sahabat, menjadi sahabat Yesus berarti selalu mengasihi,” ungkapnya.

Ketua Komisi Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Ruteng yang juga Direktur Lembaga Caritas Keuskupan Ruteng RD Benediktus Gaguk, disapa Romo Beben saat tampil sebagai pemateri pertama pada Seminar Setengah Hari  bertema Mencegah Bullying di Lingkungan Sekolah yang diselenggarakan oleh Seksi JPIC dan DPC WKRI Paroki Santu Mikael Kumba di Aula Paroki Kumba, Kamis pagi, 4 Desember 2025. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Melalui pendampingan pihak sekolah, juga orang tua di rumah, lanjut RD Beben, maka karakter positif dalam diri anak semakin diperkuat, dengan demikian berbagai hal negatif pelan-pelan bisa diminimalisir. Di sekolah, anak-anak juga diharapkan menjadi pelopor dan pelapor.

“Pelopor itu, di mana anak-anak menjadi pribadi yang mengkampanyekan melalui kata-kata dan sikap untuk tidak boleh sampai terjadi kekerasan di lingkungan sekolah. Sebagai pelapor mereka diharapkan agar ketika dirinya atau teman-teman mengalami kekerasan (bullying) mereka harus melaporkan sehingga pelakunya tidak dibiarkan sehingga segera dapat dicegah,” ucap RD Beben.

Ia juga mengharapkan agar para guru dan orang tua terus mengembangkan keterampilan pengasuhan anak dengan kasih. Sebagai tempat pertama anak-anak mendapatkan pendidikan dan bertumbuh sebagai pribadi, para orang tua harus terus berusaha menciptakan suasana rumah sebagai tempat yang nyaman bagi anak-anak, dengan memperhatikan hak hidup, kebutuhan untuk dihargai, penerimaan diri mereka walaupun ada kekurangan-kekurangan.

Bangun Komunikasi dan Empati

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Manggarai AIPDA Antonius Abun mengatakan dibutuhkan kerja sama yang sinergis antara sekolah, orang tua, masyarakat dan berbagai komponen lainnya untuk mengatasi permasalahan bullying di sekolah. Matarantai kekerasan seperti ini, lanjut dia, mesti diputuskan agar anak-anak bisa bersekolah dengan nyaman dan terhindar dari berbagai tekanan termasuk psikis yang bisa menghantui mereka.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Manggarai AIPDA Antonius Abun saat menyampaikan materinya tentang ‘Mengenali Tanda Kekerasan terhadap Anak’ pada Seminar Mencegah Bullying di Lingkungan Sekolah yang diselenggarakan di Aula Paroki Kumba, Kamis pagi, 4 Desember 2025. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

“Kami selalu menghimbau agar para guru di sekolah dan orang tua di rumah peka melihat kebutuhan anak-anak, karna banyak terjadi, anak menjadi pelaku kekerasan di sekolah karna mereka juga pernah menjadi korban bullying baik yang terjadi di rumah maupun di lingkungan sekolah ataupun di lingkungan masyarakat. Ketika anak memiliki perubahan sikap atau tingkah laku, maka guru dan orang tua bisa peka mengamati apakah anak tersebut telah menjadi korban bullying,” kata Antonius.

Membawakan materi tentang ”Jagoan Pelindung Diri dan Teman: Edukasi Anti-Bullying‘ Anggie Ratsih menjelaskan, Bullying adalah perilaku menyakiti orang lain secara sengaja, berulang, dan menggunakan kekuatan atau posisi untuk membuat orang lain merasa takut, sedih, atau tidak berdaya. Bullying atau perundungan bukan hanya bercanda tapi merupakan sebuah tindakan.

Pengelola Playground Pelangi Narwastu di Ruteng Anggie Ratsih hadir dalam Seminar Mencegah Bullying di Lingkungan Sekolah dan menjadi pembicara membawakan materi tentang ‘Jagoan Pelinding Diri dan Teman: Edukasi Anti-Bullying’ di Aula Paroki Santu Mikael Kumba. Ia mengajak anak-anak untuk mengenal lebih dalam sembari menjauhi berbagai perilaku perundungan di sekolah. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG

“Ada bullying fisik seperti melukai tubuh atau barang milik orang lain, memukul, menendang, mendorong, dan merusak barang. Ada juga bullying verbal yaitu melukai lewat kata-kata, memanggil dengan julukan buruk, mengancam, menghina. Ada juga bullying secara sosial yang membuat seseorang dijauhi dan dipermalukan, misalnya mengajak teman lain untuk tidak berteman dengan seseorang, menyebarkan gosip, mengucilkan dalam permainan,” tutur Anggie.

Dikatakan Anggie, anak-anak bisa menjadi pelaku bullying diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti mereka meniru lingkungan yang tidak aman, pernah menjadi korban bullying, perasaan tidak nyaman, ingin merasa berkuasa dan diperhatikan, kurangnya keterampilan bergaul dan mengendalikan emosi, dan anak-anak yang punya problem di rumah dan dengan teman.

Ia mengajak semua siswa yang hadir agar menjauhi perilaku bullying dan selalu menjadi anak yang membantu menghentikan bullying apabila terjadi. “Mulai dengan kenali perasaanmu, misalnya sedang marah atau sedih. Dengan mengenali perasaan kita bisa mengontrol bukannya meledek ke teman apalagi menyakiti orang.” Menurut Anggi, para guru dan orang tua di rumah penting membangun komunikasi dan menunjukkan empati kepada anak-anak.

Seorang siswa sedang mensharingkan pengalaman dan pendapatnya dalam kegiatan Seminar sehari  bertajuk Mencegah Bullying di Lingkungan Sekolah yang diadakan di Aula Paroki Kumba yang dihadiri para siswa dari semua Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama yang ada di wilayah Paroki Kumba. Seminar di akhir tahun 2025 tersebut ingin mengajak semua siswa agar menjauhi berbagai bentuk kekerasan yang ada di sekolah. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Seminar juga diperkaya dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Master of Ceremony Anita Maria Dahur, kesehariannya disapa Ibu Ani, Kepala Sekolah SDI Tenda. Sejumlah siswa juga diberikan kesempatan mensharingkan pengalaman mereka pernah mengalami perundungan dan kiat-kiat mereka mengatasi atau keluar dari lingkaran kekerasan itu. Dari seminar ini diharapkan para siswa bisa menjadi pioner dalam ikut membangun habitus baru di lingkungan sekolah yang aman, humanis, dan nyaman bagi semua pelajar. (Jimmy Carvallo)