Oleh: Jimmy Carvallo | Redaktur Portal Berita Parokikumba.org
SEPEKAN terakhir publik tersentak, prihatin sekaligus sedih atas tragedi bunuh diri yang dilakukan seorang bocah, pelajar kelas IV Sekolah Dasar di Desa Wawowae Kabupaten Ngada, NTT. Diduga akibat keadaan ekonomi keluarga yang jauh dari hidup layak, sehingga tak mampu membeli buku dan alat tulis untuk kebutuhan sekolahnya, anak lelaki itu pun menuliskan sepucuk surat ‘ungkapan hati’ untuk mamanya sebelum ia mengakhiri hidup.
Apa yang terjadi pada bocah berumur 10 tahun itu, merupakan realitas hidup yang juga (sebenarnya) ada di masyarakat sekitar kita. Kemiskinan seungguhnya bukan hanya soal angka, tapi apa yang tergambar di belakang barisan angka-angka. Pada tahun 2025, pemerintah menganggarkan dana bantuan sosial (bansos) sebesar 135, 6 triliun. Tahun sebelumnya ada 73 juta keluarga penerima bantuan tersebut. Rapor kemiskinan di negara kita memang tak bisa seratus persen melukiskan derita atau kemalangan sesungguhnya yang sedang ditanggung warga.
Potret keluarga-keluarga yang membutuhkan perhatian selalu ada di sekitar kita. Ketimpangan dan kesenjangan sosial ekonomi telah menambah garis jarak ‘struktur sosial’ masyarakat di tengah persaingan dan kerasnya hidup yang semakin diwarnai konsumerisme, hedonisme, dan pragmatisme. Data kemiskinan memang tidak bisa menjadi rangkuman lanskap keluarga-keluarga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Fenomena kemiskinan lalu menjadi semacam fatamorgana: dipandang dari jauh seakan baik-baik saja. Namun, tidak demikian bila kita harus menengoknya lebih dekat.
Di tengah situasi yang timpang seperti ini, adakah kita terpanggil untuk mengambil peran, mengulurkan tangan untuk mereka yang berada dalam kondisi rentan, rapuh, dan semakin tergusur lebih jauh ke lembah kemiskinan dan ketidakberdayaan? Mungkinkah pilihan untuk selalu ‘menutup mata’ hingga kehilangan sensitivitas terhadap sesama yang ‘berteriak dalam diam’ menjadi gaya hidup urban kita?

Ibu Katarina Indrawati Bedhu (berdiri kedua dari kiri) bersama anggota Komunitas Lux Mundi saat mengunjungi seorang penderita yang membutuhkan bantuan dan perhatian. Komunitas ini rutin mengunjungi orang-orang yang membutuhkan bantuan kasih. (Foto: IST)
Beberapa waktu lalu, saya cukup lama ngobrol dengan seorang ibu, pendiri Komunitas Lux Mundi (bahasa Latin yang berarti Terang Dunia) di Ruteng. Namanya Katarina Indrawati Bedhu. Di usianya yang 78 tahun, ia masih bugar untuk melakukan berbagai karya kemanusiaan bersama puluhan anggota yang tergabung dalam KLM. Komunitas yang berdiri pada tahun 2022 tersebut dalam karya-karya kasih telah menolong ribuan orang yang membutuhkan bantuan, dari operasi katarak, pengobatan mata, bantuan sembako, pengobatan di rumah sakit, hingga membiayai pendidikan anak-anak dari keluarga tak mampu.
Yang menarik adalah, kerja-kerja sosial karitatif itu mereka lakukan jauh dari sorot kamera dan publikasi. Kalaupun itu (harus) dilakukan, hanya sekedar salah satu jalan yang ditempuh demi mengajak lebih banyak orang mengambil bagian dalam komunitas ini, atau menginspirasi setiap orang untuk berani ‘keluar dari diri sendiri’, dari kenyamanan dan egoisme (cinta diri) dengan berbagi pada sesama yang menderita dengan caranya masing-masing.
Pernah melihat dari dekat karya belas kasih KLM, Ibu Katarina dan para volunter lainnya sangat irit berbicara. Setiap orang yang mereka jumpai untuk dibantu, selalu disapa dengan kata-kata yang sederhana, menyejukkan dan membesarkan hati, dan membangun harapan. Prinsip mereka begitu simple: memberi dengan ikhlas dan sukacita tanpa menuntut balas, tanpa mencari pujian. Tanpa syarat. Sebagai komunitas filantropi. anggota KLM bekerja menjangkau kebutuhan orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan.
Mereka menjadi perpanjangan tangan Belas Kasih Tuhan di tengah dunia yang sering tak berbelaskasih. Berbagi dan memberi bukan karna kelebihan, tapi karna cinta dan kepedulian. Tanpa desain program, rumusan angka-angka, analisa sosial, mereka terus bekerja dengan ketulusan menembus sekat-sekat suku, agama, budaya, dan tak memandang latar belakang. Dalam dunia yang semakin tidak peduli, mereka terus membangun dan mengangkat martabat kemanusiaan, citra Allah, yang menyadarkan kita semua bahwa karya amal kasih tak boleh mati karna bisingnya dunia.

