Foto: Suster Imelda, SCSC bersama para suster lainnya serta para anggota Kelompok Kerasulan Doa Hati Kudus berfoto bersama petugas/pegawai di Rutan Kelas II B Ruteng dalam kunjungan mereka pada Jumat, 22 Juni 2026. (Foto: IST)
PAROKIKUMBA.ORG – Jumat, 22 Juni 2026, Kongregasi Suster-Suster Katekis Hati Kudus bersama kelompok Kerasulan Doa Hati Kudus, melaksanakan kegiatan pembinaan iman di Rutan Kelas II B Ruteng. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 100 warga binaan dan 20 anggota kelompok doa, menciptakan suasana yang hangat dan penuh harapan di balik dinding jeruji.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan devosi Hati Kudus Yesus kepada para warga binaan, serta memberikan penguatan spiritual dan harapan baru bagi mereka yang sering kali merasa terasing dan kehilangan arah dalam hidup.
Devosi Hati Kudus Yesus telah menjadi bagian integral dari kehidupan spiritual umat Katolik sejak awal Gereja. Pada abad ke-11 dan ke-12, biara-biara Benediktin dan Susterian mulai memperkenalkan dan mengembangkan praktik devosi ini, di bawah pengaruh tokoh-tokoh seperti Santo Bernardus dari Clairvaux dan Santa Gertrude. Mereka menekankan kasih Allah yang mengorbankan diri-Nya untuk umat manusia sebagai inti dari iman Kristen.
Momen penting dalam sejarah devosi ini terjadi pada tahun 1675, ketika Santa Margaret Mary Alacoque mengalami penampakan Yesus. Dalam penampakan tersebut, Yesus menegaskan bahwa Hati-Nya adalah sumber pengharapan dan pengampunan bagi semua orang, mengajak umat untuk mendekat dan merasakan kasih-Nya yang tak terbatas. Paus Pius XI bahkan menyatakan, “Devosi kepada Hati Kudus adalah intisari agama kita, dan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih sempurna” (Miserentissimus Redemptor, 3).
Hati Kudus Yesus, yang dikelilingi oleh mahkota duri dan bersinar dengan cahaya kasih, menjadi simbol kasih yang mengalir dari Allah kepada setiap jiwa. Setiap tetes darah yang mengalir dari Hati-Nya adalah ungkapan kasih yang dalam, mengundang semua orang untuk menemukan pengampunan dan kedamaian.

Sr. Imelda, SCSC saat menyerahkan gambar Hati Kudus Yesus pada sebuah pigura kepada para warga binaan yang ada di Rutan Kelas II B Ruteng yang diterima oleh pegawai Rutan saat kunjungan pembinaan iman untuk para warga binaan. (Foto: IST)
Acara di Rutan Kelas II B dimulai dengan doa bersama Litani Hati Kudus Yesus, yang dipimpin oleh Ibu Yeyen dan Ibu Selvi. Suster Imel kemudian memperkenalkan devosi Hati Kudus Yesus sebagai sumber kekuatan dan harapan dalam perjalanan hidup mereka. Para peserta diberikan teks novena Hati Kudus dan kartu kenangan yang berisi pesan-pesan inspiratif serta doa penyerahan kepada Hati Kudus sebagai bagian dari pembinaan spiritual mereka.
Acara berlangsung selama 1 jam 30 menit dan diakhiri dengan sesi tanya jawab serta sharing pengalaman antara anggota kelompok Kerasulan Doa dan para narapidana. Dalam sesi ini, Mama Vero dan Mama Selfi berbagi pengalaman iman mereka, mengungkapkan bagaimana devosi ini telah memberikan kekuatan dan pengharapan dalam setiap pergulatan hidup mereka.
Salah seorang warga binaan mengajukan pertanyaan yang mendalam: “Jika Yesus adalah pusat segala hati, bagaimana saya dapat mempersembahkan seluruh pergumulan saya kepada-Nya? Bagaimana saya bisa mengandalkan Dia bahwa Dia akan mendengarkan keluhan hati saya?”
Menanggapi pertanyaan tersebut, Suster Imel menjelaskan bahwa untuk mempersembahkan seluruh pergumulan kepada Yesus, penting untuk membuka hati dengan tulus dan menumpahkan segala persoalan kepada-Nya dalam doa.

Gambar Hati Kudus Yesus yang dihadiahkan oleh Sr. Imelda, SCSC dan Kelompok Kerasulan Doa Hati Kudus Yesus kepada para warga binaan di Rutan Kelas II B Ruteng. (Foto: IST)
“Percayalah bahwa Dia selalu hadir dan siap mendengarkan,” ujar Suster Imel. “Hati Kudus Yesus adalah simbol kasih Allah yang tak terbatas, siap menyembuhkan setiap luka dan mengampuni segala dosa. Jangan menyembunyikan lukamu di depan Hati Kudus Yesus, karena tidak ada luka hati yang tidak bisa disembuhkan oleh-Nya, dan tidak ada dosa yang tidak dapat diampuni oleh Yesus. Berbicaralah dengan Dia dari hati ke hati.”
Suster Imel juga menekankan bahwa devosi ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi merupakan cara untuk membangun hubungan yang intim dengan Yesus. “Ketika kita berbicara kepada-Nya, kita mengizinkan kasih-Nya mengalir ke dalam hidup kita, memberikan kita kekuatan untuk menghadapi tantangan dan harapan untuk masa depan yang lebih baik,” tambahnya. Dia mengajak para narapidana untuk menghidupi devosi ini dari balik jeruji besi, dengan harapan bahwa semangat kasih ini akan mereka bawa kepada keluarga dan masyarakat ketika mereka kembali ke kehidupan normal.
Para warga binaan menyampaikan harapan agar para suster dan kelompok Kerasulan Doa Hati Kudus dapat terus memberikan dukungan moral dan pembinaan spiritual, sehingga mereka dapat menjalani masa pembinaan dengan baik dan bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik. Para suster dan anggota kelompok Kerasulan Doa Hati Kudus sangat bersyukur, karena devosi ini telah menembus dinding jeruji besi, membawa terang kasih Allah kepada mereka yang terkurung.
Kunjungan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan kongregasi SCSC dan Kelompok Kerasulan Doa Hati Kudus untuk menyebarluaskan devosi ini dan menjangkau mereka yang rentan dan membutuhkan belas kasih Allah.
Hari raya Hati Kudus Yesus tahun ini jatuh pada tanggal 12 Juni, dan akan diawali dengan novena sembilan hari yang dimulai dari tanggal 3 sampai 11 Juni. Sebagai simbolisasi penerimaan devosi ini, acara ditutup dengan penyerahan gambar Hati Kudus Yesus dan teks novena Hati Kudus Yesus, sebagai pengingat dan kekuatan dalam perjalanan spiritual mereka di balik jeruji besi.
Akhirnya, Hati Kudus Yesus adalah tempat perlindungan yang selalu dapat kita andalkan, sumber kasih yang tak pernah habis, dan pengharapan yang tidak akan pernah mengecewakan. Dalam setiap detik kehidupan kita, janganlah kita menjauh dari Hati Kudus-Nya, karena di dalam-Nya, kita menemukan segala yang kita butuhkan untuk hidup dalam kasih dan damai. Pilihan untuk mendekat kepada Hati Kudus Yesus adalah pilihan yang tepat; Dia adalah pelindung dan pengharapan bagi setiap jiwa yang mencari kelegaan dan cinta sejati.
Seperti yang dinyatakan oleh St. Faustina, “Hati Kudus Yesus adalah lautan kasih yang tak terukur. Dalam setiap tetes darah-Nya, kita menemukan pengampunan dan kasih yang menyelamatkan.” Mari kita buka hati kita dan biarkan kasih-Nya mengalir dalam hidup kita, membawa transformasi dan kedamaian yang sejati. (Tim Redaksi)


