Kumba, Ruteng, Manggarai

Oleh: Bernardus Tube Beding | Umat Paroki Kristus Raja Mbaumuku, Ruteng

Pekan ini, Keuskupan Ruteng menggelar Sidang Sinode IV dengan tema “Berziarah Bersama dalam Pengharapan: Beriman, Bersaudara, dan Misioner”. Sinode IV bertujuan merumuskan perubahan kehidupan umat yang beriman utuh, dinamis, transformatif, juga Menyusun Program Pastoral Keuskupan Ruteng Periode 2027—2036.

Tentu, umat Keuskupan Ruteng sangat mendukung kegiatan akbar ini melalui doa dan aksi, karena ini momen penting bagi Gereja Keuskupan Ruteng menata masa depan dalam menghadapi realitas kehidupan zaman ini.

Kita tidak dapat mungkiri bahwa zaman sekarang telah ditandai dengan virus disrupsi yang menjalar dalam berbagai bidang kehidupan umat manusia. Satu sisi, disrupsi memberi kemajuan baik, sisi lain disrupsi justru membawa kegelisahan banyak orang. “Dewasa ini umat manusia tampaknya terus saja terancam oleh apa saja yang dihasilkannya, seperti barang-barang hasil keringatnya sendiri, bahkan terlebih hasil karya akal budi dan kecenderungan-kecenderungan kemauannya sendiri” (RH 15). Tidak sedikit umat manusia merasa tidak memiliki nilai-nilai kehidupan atau norma kebaikan, bahkan ada yang merasa nilai-nilai keagamaan sudah usang dan tidak meyakinkan lagi.

Gereja dalam Dunia

Perkembangan teknologi dan peradaban masa kini seharusnya juga menuntut perkembangan moral dan nilai-nilai keagamaan yang seimbang. Tetapi justru yang tampak adalah kemorosotan moralitas dan nilai-nilai keagamaan. Itu realitas yang tidak kita mungkiri pula. Pertanyaan muncul, mengapa perkembangan peradaban tidak menjadikan kedewasaan rohani umat awam maupun klerus semakin baik, lebih sadar akan martabat kemanusiaannya, lebih bertanggung jawab, lebih terbuka terhadap orang lain?

Perkembangan dinamis umat manusia dengan aneka macam persoalan hidup, bagus kalau dilirik juga, bila perlu menjadi satu fokus perhatian Sinode IV Keuskupan Ruteng pada harapan membangun keterlibatan Gereja secara konkret, utuh, dan menyeluruh. Tentu menjadi pertanyaan, bagaimana Gereja Lokal Keuskupan Ruteng dapat memenuhi tugas perutusannya mewartakan Injil Yesus Kristus kepada dunia yang serba kompleks ini?

Pertanyaan tersebut meniscayakan bahwa “Evangelisasi Baru” adalah keharusan dengan cara dan metode yang lebih menyentuh umat. Evangelisasi baru bukan sekadar merumuskan kembali ajaran iman, melainkan mengantar umat pada pertemuan Kembali dengan Allah secara pribadi.

Seperti harapan Paus Paulus VI ((EN 3), “Keadaan masyarakat tempat kita hidup sekarang ini mewajibkan kita semua supaya meninjau kembali metode-metode, berusaha sedapat mungkin mempelajari bagaimana kita dapat membawa pesan kepada manusia modern. Sebab hanya di dalam pesan Kristus itulah manusia modern dapat menemukan jawaban terhadap persoalan-persoalannya dan menimba kekuatan bagi keterikatannya dalam solidaritas kemanusiaan.”

Dasar dan Tanggung Jawab

Dasar evangelisasi Gereja adalah kesaksian hidup yang diberikan Yesus tentang diri-Nya sebagai “Kabar Gembira Allah”. Selaku Pewarta Injil, Yesus Yesus pertama-tama memaklumkan Kerajaan Allah yang intinya adalah keselamatan, pembebasan dari dosa, dan sukacita karena mengenal Allah (EN 23). Karena itu, Yesus mengutus para rasul melanjutkan tugas-Nya dalam mewartakan Kabar Gembira kepada setiap orang sampai ke ujung bumi. Melalui para rasul itu Gereja pada gilirannya memperoleh tugas perutusan yang sama, yakni mewartakan Kabar Gembira.

Dalam Redemptoris Missio (Art. 23) tertulis bahwa Gereja pada kodratnya bersifat misioner. Itu berarti semua umat beriman (yang sudah menerima sakramen inisiasi) tanpa kecuali mempunyai tugas dan tanggung jawab mewartakian Injil. Secara lebih terinci, Redemptoris Missio menyebut penanggung jawab kegiatan pewartaan.

Pertama, para Uskup sebagai penanggung jawab pertama. Dia bertugas mendorong kerasulan sebagai pemimpin dan pusat kesatuan kerasulan untuk memajukan dan mendukung kegiatan kerasulan. Kegiatan kerasulan tidak hanya untuk anggota Gereja sendiri, tetapi juga bagi umat bukan Kristiani (RM 63). Kedua, para misionaris menduduki tempat sangat penting dalam pewartaan Injil (RM 65, AG 23—27). Ketiga, para Imam Praja (Diosesan) dipanggil berdasarkan tahbisan imamat untuk mengambil bagian dalam tugas perutusan Gereja yang tidak hanya dalam lingkup keuskupan, tetapi perutusan keselamatan sangat luas dan universal (RM 67, PO 10).

Keempat, Lembaga-lembaga Hidup Bakti membaktikan diri pada pelayanan dengan menguduskan dirinya, berkewajiban untuk berkarya secara khusus dalam kegiatan misioner dengan cara khas bagi lembaga mereka sendiri (RM 69). Kelima, semua kaum awam berdasarkan baptisan mempunyai kewajiban untuk karya misioner. Mereka mengambil bagian dalam tugas perutusan Kristus sebagai Imam, Nabi, dan Raja (CFL 14).

Evangelisasi Baru

Sebuah dinamika evangelisasi digerakkan oleh Roh Kudus. Yesus sebagai Pewarta sejak awal hidup-Nya sudah dipenuhi oleh Roh Kudus (Luk. 1:35). Yesus bergembira dalam Roh (Luk.10:21). Sebelum para rasul mewartakan Injil, Roh Kudus turun atas mereka pada hari Pentakosta (Kis. 2:1—13). Roh Kudus membakar semangat mereka sehingga mereka tidak takut dan gentar. Paulus juga dipenuhi Roh Kudus (Kis. 9:17) sehingga mulai saat itu ia mengabdikan dirinya pada pelayanan kerasulan. Paulus dibaharui oleh Roh Kudus.

Dengan bantuan Roh Kudus, umat (Gereja) bertambah banyak jumlahnya (Kis 9:31). Gereja seluruhnya dijiwai oleh Roh Kudus dari permulaan sampai sekarang ini. Maka setiap pewarta harus membiarkan dirinya dijiwai oleh Roh Kudus dan terus berdoa dengan iman dan ketekunan agar Roh Kudus tetap memberi semangat misioner yang tulus (EN 75).

Sasaran

Evangelisasi Baru mengusahakan pertemuan pribadi dengan Sang Penyelamat sampai menyentuh hati. Zaman modern ini menuntut evangelisasi baru yang sesuai dengan zaman ini. Paus Paulus VI dalam Evangelii Nuntiandi (Art.18) mengartikan evangelisasi sebagai pembawa Kabar Gembira ke dalam semua lapisan umat manusia melalui pengaruhnya mengubah umat manusia dari dalam dan membaharuinya. “Lihatlah, Aku mambaharui segala sesuatu (Wahyu 21:5).

Harapan saya, Sinode IV Keuskupan Ruteng membawa “evangelisasi baru” dalam menunjang proses penghayatan (interiorisasi) iman umat Keuskupan Ruteng dan mengembangkan “budaya baru” yang terbuka bagi pesan Injil. Evangelisasi baru ditujukan kepada seluruh umat manusia, khususnya umat Keuskupan Ruteng yang memiliki nilai-nilai sosial dan kebudayaan, supaya iman dapat mengakar, tumbuh, dan menjelma dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Untuk mencapai sasaran evangelisasi baru, perlu sarana yang tepat guna.  Beberapa sarana alternatif. Pertama, pemanfaatan ajaran sosial Gereja tentang pembangunan sosial-ekonomi dan perdamaian, buruh, serta keadilan sosial untuk mendasari pengembangan umat yang otentik. Usaha dalam bidang sosial-ekonomi merupakan usaha sentral umat Keuskupan Ruteng dalam penghayatan iman.

Tidak mungkin menjadi pengikut Kristus, tidak mungkin menjadi Gereja Yesus Kristus, selain dalam keterbukaan terhadap sesama, terutama sesama yang membutuhkan bantuan. Bantuan terhadap orang-orang kecil harus diusahakan dalam semangat solidaritas menurut teladan Yesus yang menghargai sesama sebagai subjek dan tidak pernah menjadikannya objek.

Dengan ini kita dapat mengayati satu aspek inti dari sikap Yesus sendiri. Sedapat mungkin usaha dalam bidang sosial-ekonomi harus dijalankan dalam kerjasama antara pelbagai orang dan intansi dengan keahlian dan kompetensi berbeda tanpa memberi garis pemisah yang jelas.

Kedua, pemanfaatan media komunikasi massa secara bijak dan bermoral untuk meningkatkan tingkat kehidupan susila, membangun persatuan dan persaudaraan, serta menegakkan kebenaran dan keadilan. Ketiga, dialog harus mendapat tempat dalam gereja Keuskupan Ruteng, sebab mengandung benih-benih sabda dan merupakan unsur pewartaan Injil. Keempat, gereja dan keluarga merupakan subjek evangelisasi baru. Gereja harus menjadi pusat evangelisasi baru dan keluarga menjadi “rumah Gereja”.

Sekadar Refleksi

Kalua kita boleh jujur bertanya, mengapa evangelisasi baru sangat dibutuhkan bagi Gereja? Apanya yang harus baru? Bukankah istilah evangelisasi sudah mengandung arti bahwa Kristus harus diwartakan dengan penuh semangat dan kreatif, sehingga dapat menyentuh semua orang? Zaman sekarang, untuk mempertahankan iman, umat perlu membangun ”evangelisasi baru”.

Muncul rentetan pertanyaan lagi, apakah masalahnya terletak pada para pewarta? Apakah pengaruh dunia modern dapat dipersalahkan? Tidak salahkah kalau saya berani mengatakan bahwa Gereja Keuskupan Ruteng barangklali harus mawas diri dan perlu bertobat, bukan pertama-tama membuat sesuatu yang ‘baru’, melainkan memperbaiki kesalahan yang selama ini kurang disadari?

Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan itu, evangelisasi baru jangan sampai hanya menjadi slogan indah, tetapi kosong tanpa arti. Semua menjadi tanggung jawab kita bersama.