Foto: Wakil Ketua Pelaksana Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Mikael Kumba Hima Domi Antonius. (Foto: PAROKIKUMBA.ORG)
PAROKIKUMBA.ORG – DPP dan DKP Santu Mikael Kumba kembali mengadakan program layanan Pinjaman Lunak Tanpa Bunga kepada semua umat yang ada di 99 KBG. Program sosial-ekonomi (sosek) ini telah memasuki tahun ke-4 pelaksanaannya bertujuan untuk membantu keluarga-keluarga di setiap KBG yang membutuhkan dana segar guna memulai usaha ekonomi mikro, khususnya bagi para ibu rumah tangga.
“Program ini berawal dari keprihatinan di mana maraknya rentenir yang memberikan pinjaman berbunga tinggi kepada umat di KBG-KBG. Skema yang paroki atur, memasuki tahun keempat ini, PTB diberikan sebesar empat juta rupiah ke setiap KBG. Peruntukannya menyasar keluarga-keluarga yang membutuhkan pinjaman untuk memulai atau melanjutkan usaha. Program ini membantu menopang ekonomi keluarga,” kata Hima Domi Antonius, Kamis siang, 11 Juni 2026.

Momen Peluncuran Pinjaman Lunak Tanpa Bunga yang dilakukan oleh Pastor Paroki St. Mikael Kumba RD Kornelis Hardin dan jajaran pengurus DPP-DKP di Gereja Kumba pada tahun 2025 lalu. Tahun ini menjadi tahun ke-4 program ini berjalan dan disambut gembira oleh umat. (Foto: PAROKIKUMBA.ORG)
Domi yang menjabat Wakil Ketua Pelaksana DPP dan Ketua Rumpun Pastoral Pelayanan Sosial menambahkan, dari kajian evaluasi internal DPP-DKP selama 3 tahun pelaksanaannya, program TPB dinilai positif dan manfaatnya telah dirasakan oleh keluarga-keluarga di KBG. Tahun ini, setiap KBG mendapatkan pinjaman tanpa bunga dengan nominal 4 juta rupiah dan dikembalikan lagi pada Bulan Desember.
“Kita mendorong pemberdayaan ekonomi rumah tangga umat di KBG-KBG dengan memanfaatkan dana pinjaman lunak ini, supaya mereka bisa mendapatkan modal dalam merintis usaha, tanpa harus meminjamnya dari para rentenir yang memberikan bunga tinggi dan membebankan. PTB ini tujuannya untuk rumah tangga di setiap KBG yang membutuhkan dana. Memang dananya masih terbatas, tapi diharapkan bisa dimanfaatkan dengan baik,” tutur Domi.

Salah seorang pemudi umat Paroki Kumba sedang melayani pembeli pada event Pasar Murah (Bazar) yang dilaksanakan di pelataran parkir Gereja Kumba belum lama ini. DPP Kumba juga rutin bekerja sama dengan Dinas Perdagangan Kabupaten Manggarai mengadakan kegiatan pasar murah untuk umat yang membutuhkan sembako dalam harga terjangkau. (Foto: PAROKIKUMBA.ORG)
Ketua Seksi Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PSE) DPP Kumba Hubertus Agung, menjelaskan, selain program PTB, Pastor Paroki, DPP, dan DKP juga terus mendorong UMKM umat berkembang, salah satunya juga penyediaan lapak-lapak untuk berjualan aneka kuliner di pelataran parkir Gereja Kumba setiap hari minggu, hari raya, dan pada event-event lainnya yang dilaksanakan di kompleks gereja.
“PTB sendiri menjadi program nyata kepedulian terhadap umat yang membutuhkan bantuan untuk modal awal atau lanjutan usaha. Agar mereka tidak berjalan sendiri. Ada Paroki Kumba yang ikut mendampingi mereka berusaha. Program ini untuk membangun kemandirian ekonomi umat. Prinsipnya, paroki membantu secara finansial tanpa bunga, supaya keluarga-keluarga yang membutuhkan bisa manfaatkan dengan baik,” ujar Hubert, yang juga owner Wulang Pari Coffee.

Ketua Pelaksana DPP St. Mikael Kumba Jeman Agustinus sedang menyerahkan dana Pinjaman Lunak Tanpa Bunga kepada pengurus salah satu KBG yang akan diteruskan kepada keluarga yang membutuhkan. Program ini diharapkan dapat membantu menjauhkan umat dari para rentenir yang meminjamkan uang dengan bunga tinggi. (Foto: PAROKIKUMBA.ORG)
Program PTB didesain untuk membantu semua umat bertumbuh dalam komunitas yang saling mendukung, terutama dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga melalui pengembangan usaha. Pandangan ini diungkapkan Ferdinand Jebarut, Ketua Pelaksana DKP Kumba. “Selama ini ada keluarga di KBG – KBG yang kesulitan memulai usaha dengan modal yang tidak besar. Nah, program PTB ini lalu menjadi pilihan mereka untuk digunakan membuka usaha, misalnya bagi yang ingin berjualan gorengan atau kuliner,” ucapnya.
Tiga tahun lebih berjalan, proses pemberdayaan ekonomi umat semakin terasa. Akses pembiayaan dari paroki, ini menjadi ‘ruang’ menata masa depan melalui perencanaan ekonomi bersama antara kepala keluarga dan pasangan hidupnya (pasutri). PTB pun tak hanya sekedar program pemberdayaan (ekonomi) umat, tapi jalan membangun masa depan keluarga-keluarga. Meskipun tak seberapa besar, namun bila dikelola dengan bijak dan rajin, akan terwujud juga kata pepatah: sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. [Jimmy Carvallo]



