Kumba, Ruteng, Manggarai

PAROKIKUMBA.ORG – Satu persatu para peserta Rapat Evaluasi Festival Golo Curu (FGC) Maria Ratu Rosari mulai memasuki aula Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng pada Rabu pagi, 29 Oktober 2025. Dengan sumringah mereka saling menyapa dan berjabatan tangan. Tampak Vikaris Jenderal Keuskupan Ruteng RP Sebastian Hobahana, SVD, Vikep Ruteng RD Dyonysius Osharjo, Direktur PUSPAS RD Martin Chen, dan Ketua Umum FGC 2025 Yosef Nono. Sejumlah Ketua Komisi PUSPAS juga hadir. Adapula utusan Pemda dan aparat Kepolisian.

Tak lama kemudian, rapat dibuka oleh Ketua Pelaksana FGC, RD Peppy Bora. Semua yang hadir serius mengikuti highlight kilas balik seluruh rangkaian penyelenggaraan Festival Golo Curu dari awal hingga hari terakhir pelaksanaannya. Satu per satu lalu memberikan pandangan, masukan, dan berbagai catatan yang merangkum festival ini dari berbagai perspektif. Setiap hal dibahas tuntas.

Pemandangan saat ribuan orang sedang melakukan Karnaval Budaya dari Natas labar di pusat Kota Ruteng menuju ke pelataran Gereja Katedral tempat digelarnya pameran dan pentas seni budaya Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari, Ruteng, 6 Oktober 2025 pagi. Karnaval ini diikuti hampir 50 komunitas lintas agama dan etnis serta pekerja seni dan berbagai lembaga. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Ketua Umum FGC, Yosef Nono mengatakan pelaksanaan Festival Golo Curu 2025 secara umum sudah berjalan baik, sukses, dan ada banyak kemajuan dibandingkan sejak awal digelar 4 tahun lalu. Ia pun mengapresiasi kerja keras dan kegigihan Panitia FGC yang telah sukses menghelat event spektakuler ini. “Festival Golo Curu tahun ini menjadi tolak ukur kita menyelenggarakannya kembali tahun depan. Meskipun ada satu dua perbaikan yang perlu menjadi perhatian bersama. Kita berharap peningkatan kualitas festival ini selalu menjadi hal yang penting untuk kita lakukan,” kata Yosef.

Para ibu dari etnis Ngada menggunakan kostum tradisional mereka ketika sedang berjalan menuju pelataran Gereja Katedral dalam Karnaval Budaya. Kegiatan ini menjadi rangkaian acara yang menarik perhatian belasan ribu orang termasuk wisatawan yang memenuhi jalan raya dari Natas labar hingga pusat kegiatan FGC di pelataran Katedraal Ruteng. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Harmoni di Bumi Congkasae

Tahun ini, Festival Golo Curu sukses dilaksanakan dan semakin baik dari banyak hal, termasuk partisipasi para pelaku UMKM, kelompok-kelompok agama dan etnis, kelompok seniman: sanggar seni (sendratari) dan band orang muda, termasuk peningkatan kunjungan arena festival baik penduduk lokal, wisatawan domestik, dan mancanegara. Hal ini terjadi karena adanya perbaikan kualitas dan inovasi panitia yang dilakukan pantia FGC sehingga ajang tahunan ini menjadi “pesta rakyat” yang memukau dalam lanskap festival religi, budaya, dan ekologi.

“Animo UMKM tinggi, dibandingkan tahun lalu. Ada lebih dari 90 UMKM yang mengambil bagian meramaikan arena Festival Golo Curu di pelataran Gereja Katedral dengan omset lebih dari 1 miliar selama pelaksanaan pameran dan pentas seni dari tanggal 3 sampai 7 Oktober 2025,” kata Ketua Komisi Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Ruteng, RD Jossy Erot dalam pertemuan ini. “Antusiasme belasan ribu umat mengikuti prosesi juga tinggi sekali, itu mulai terlihat sejak dari prosesi paroki-paroki luar Kota Ruteng,” ujar RD Dino Hardin, Ketua Seksi Prosesi FGC.

Perwakilan dari komunitas etnis Bali yang ada di Manggarai saat mengikuti Karnaval Budaya Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari yang diselenggarakan di Ruteng, Kabupaten Manggarai, 6 Oktober 2025. Setiap tahun, karnaval budaya menjadi salah satu mata acara di festival ini yang juga menarik perhatian wisatawan dan masyarakat luas. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) RD Dr. Martin Chen dalam rapat ini mengatakan, seiring dengan semakin populernya FGC di kancah nasional dan kini mulai merambah wisatawan dari berbagai belahan dunia, maka panitia sedang berupaya agar festival ini masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN). “Ada tiga daya tarik utama kalau orang melihat keseluruhan pergelaran Festival Golo Curu, yaitu devosi, kultur, dan ekonomi yang melibatkan begitu banyak UMKM. Ini yang menjadi kekhasan festival,” kata RD Martin.

Devosi kepada Bunda Maria Ratu Rosari, termasuk berziarah ke Gua Maria di Golo Curu, RD Martin Chen menuturkan, telah berlangsung sejak lama dan menjadi tradisi yang melekat erat dengan kehidupan umat. Tidak hanya umat Katolik yang tinggal di Kota Ruteng tapi juga yang datang dari berbagai tempat/paroki yang jauh. Tari kolosal “Maria Ratu Rosari” yang dipentaskan oleh ribuan penari pelajar dan mahasiswa setiap FGC menggambarkan filosofi hidup orang Manggarai, yakni Nai Ca Anggit Tuka Ca Leleng (bersatu untuk satu tujuan bersama) yang disimbolkan dalam rosario.

Para pelajar muslim dari sekolah-sekolah madrasah yang ada di Kabupaten Manggarai saat mengambil bagian dalam Karnaval Budaya – Festival Golo Curu 2025. Karnaval Budaya merupakan tempat perjumpaan berbagai agama, etnis, pekerja seni, paroki-paroki, biara-biara, komunitas-komunitas yang ada di tengah masyarakat dalam semangat Bhinekka Tunggal Ika. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Menariknya lagi, tarian ini disatukan dengan karnaval budaya. Tahun ini karnaval diikuti oleh 44 kelompok warga, terdiri dari lintas etnis, agama, pekerja seni, paroki-paroki, dan berbagai komunitas yang ada di tengah umat Keuskupan Ruteng. Berangkat dari Natas Labar di pusat Kota Ruteng, ribuan orang yang mengikuti karnaval budaya berjalan kaki menuju pelataran Gereja Katedral sambil mementaskan keunikan/daya tarik yang ada. Kesatuan dan persaudaraan berbagai etnis dan agama itu lalu “diikat” dalam Tari Kolosal yang melukiskan tentang indahnya kebersamaan di Keuskupan Ruteng, Tanah Manggarai, The Land of Harmony.

Manggarai yang juga dikenal dengan sebutan Congkasae, semakin berdaya tarik karena mendapat “panggung” di Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari. Di festival ini berbagai kekayaaan khazanah Bumi Congkae diperkenalkan dalam berbagai pementasan, atraksi, dan pameran (seni kerajinan dan kuliner) yang menyemarakkan hari-hari festival di Ruteng, Ribuan orang dari berbagai pelosok Manggarai juga datang melihat langsung keluhuran dan keindahan kultur mereka, tempat di mana mereka berpijak, mencari nafkah, dan menjalani kehidupan, sebagaimana yang digambarkan dengan sangat spesifik dalam Tari Kolosal.

Paguyuban Sikka (Maumere) yang ada di Manggarai saat melakukan atraksi tarian dalam Karnaval Budaya yang melintasi jalan raya utama di Kota Ruteng, 6 Oktober 2025 pagi. Dalam karnaval budaya ini setiap etnis menampilkan keunggulan dan daya tarik budaya mereka kepada ribuan orang yang menyaksikannya secara langsung. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Peristiwa Sukacita Semua Orang

Mengikuti “saudara kembarnya” Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara di Labuan Bajo, Festival Golo Curu diharapkan bisa pula masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN). Festival ini, sedang diperjuangkan agar pada saatnya akan menjadi event kolaborasi antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sehingga lebih berkualitas dengan promosi pariwisata dan ekonomi kreatif warga yang lebih gencar serta membawa kemajuan di berbagai bidang kehidupan. Impian ini berangkat dari realitas bahwa FGC telah menjadi salah satu festival terbesar di Pulau Flores NTT.

Didampingi Sat Pol PP Manggarai, tampak arca Maria Ratu Rosari yang diarak dalam Festival Golo Curu sedang diprosesikan dalam Karnaval Budaya, 6 Oktober 2025 menuju pelataran Gereja Katedral Ruteng. Sebelumnya prosesi meriah juga dilakukan lintas paroki yang ada di sekitar 7 paroki Kota Ruteng dan disambut ribuan umat dengan sukacita. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Mewakili Uskup Ruteng Mgr. Siprian Hormat, Vikjen RP Sebastian Hobahana, SVD, menutup rapat evalusi, ini, menyampaikan stressing mengatakan ia berterima kasih kepada Pemda Kabupaten Manggarai, Forkompimda, panitia, PUSPAS, semua komunitas agama – etnis, dan berbagai pihak yang terlibat dalam menyukseskan FGC 2025. Ia juga mengharapkan partisipasi semua pihak, termasuk semua paroki yang ada di Keuskupan Ruteng semakin ditingkatkan dan tetap menjadi semangat yang dibawa dalam festival tahun mendatang.

“Festival Golo Curu bukan menjadi peristiwa (sukacita) paroki-paroki dalam Kota Ruteng, tetapi semua paroki dalam Keuskupan Ruteng dan semua orang di Manggarai Raya. Terima kasih panitia sudah bekerja keras dengan koordinasi yang bagus dan sinergis. Kita semua terus berupaya agar Festival Golo Curu menjadi event yang berskala nasional bahkan bisa go international. Kekhususan dari festival ini harus terus terpelihara sehingga tetap menjadi tradisi. Narasi dan messagenya terus dihidupkan dalam berbagai hal yang ditampilkan dalam festival ini,” kata RP Sebstian. (Jimmy Carvallo)