Kumba, Ruteng, Manggarai

Catatan Redaksi :

Ratusan umat Paroki Santu Mikael Kumba menghadiri Misa Pembukaan Bulan Rosario yang berlangsung khidmat di Gereja Santu Mikael Kumba, Kamis sore, 1 Oktober 2026. Misa dipimpin Vikaris Parokial Kumba RD Maximus Haber dan dimeriahkan koor anggota kelompok kerasulan rohani Legio Mariae.

Meski Kota Ruteng diguyur hujan lebat, perayaan misa yang diawali dengan Doa Rosario bersama, berjalan lancar dan diikuti dengan antusias oleh umat dan para religius yang berkarya di Paroki Kumba. Berikut kami tampilkan kembali homili RD Max pada misa ini.

Tema: “Berjalan Bersama sebagai Gereja yang Mendengarkan, Saling Menguatkan, dan Membangun Persekutuan KBG yang Berakar pada Kristus” (Tema Sinode IV Keuskupan Ruteng)

Hari ini kita memasuki Bulan Rosario. Bagi umat Katolik di Flores, doa Rosario bukanlah sesuatu yang asing. Rosario sudah menjadi bagian dari kehidupan iman kita. Sejak dahulu, banyak keluarga membiasakan diri berdoa Rosario di rumah masing-masing. Dalam KBG, umat juga berkumpul untuk berdoa (Rosario) bersama, terutama pada Bulan Mei dan Bulan Oktober. Ketika ada keluarga yang mengalami kesulitan, sakit, atau kematian, umat juga datang berkumpul untuk berdoa (Rosario) dan memberikan penghiburan dan peneguhan bagi keluarga yang berduka.

Karena itu, tradisi Rosario merupakan kekayaan iman yang patut kita syukuri dan hendaknya terus kita pelihara. Melalui Rosario, kita tidak hanya mendekatkan diri kepada Tuhan bersama Bunda Maria, tetapi juga membangun persaudaraan antara sesama anggota keluarga dan juga sesama anggota KBG serta mempererat hubungan kita sebagai umat beriman.

Menarik bahwa tepat pada tanggal 1 Oktober ini, ketika kita membuka Bulan Rosario, Gereja juga merayakan pesta St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus. Theresia dikenal sebagai santa yang menjadi orang kudus bukan karena melakukan hal-hal yang besar dan luar biasa, tetapi karena setiap hari melakukan kasih dalam hal-hal kecil. St. Theresia mengajarkan prinsipnya yang dia sebut “jalan kecil”: yaitu melakukan segala sesuatu/ atau pekerjaan walaupun sederhana yang sederhana tetapi dengan cinta yang besar kepada Tuhan dan kepada sesama.

Di sinilah kita dapat menemukan hubungan yang indah antara Rosario, St. Theresia, dan tema Sinode IV Keuskupan Ruteng. Berjalan bersama sebagai Gereja – umat Paroki St. Mikhael Kumba, KBG dan keluarga-keluarga, tidak perlu selalu dimulai dari sesuatu yang besar-spektakuler.

Berjalan bersama bisa dimulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan dengan kasih tanpa terpaksa: berkumpul untuk berdoa di rumah/KBG bukan karena kebiasaan atau karena waktunya bulan untuk berdoa rosario (Mey dan Oktober), mendengarkan orang lain, mengunjungi orang yang sedang kesulitan, menghibur yang sedang sedih, berbagi dengan mereka yang berkekurangan, dan tidak membiarkan saudara-saudara kita menghadapi kesulitan seorang diri.

Tema Sinode IV mengajak kita untuk menjadi Gereja yang mendengarkan, saling menguatkan, dan membangun persekutuan KBG yang berakar pada Kristus. Semangat ini sangat sesuai dengan doa Rosario dan juga dengan jalan kecil yang diajarkan St. Theresia.

Pertama, kita dipanggil untuk menjadi Gereja/KBG/Keluarga yang mendengarkan.

Dalam Rosario, kita merenungkan peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus bersama Bunda Maria. Maria adalah teladan seorang yang mendengarkan Sabda Tuhan dan menyimpannya dalam hati. Karena itu, ketika kita berdoa Rosario, kita tidak hanya mengucapkan Salam Maria berulang-ulang tetapi kita juga diajak untuk berhenti sejenak, mendengarkan Tuhan, dan merenungkan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita.

Tetapi mendengarkan Tuhan juga harus membuat kita semakin mampu mendengarkan sesama. Di dalam KBG, mungkin ada orang yang kelihatannya biasa-biasa saja, tetapi sebenarnya sedang menyimpan beban berat terutama pasca gempa Flores 15 Agustus 2026. Ada yang kehilangan rumah, ada yang masih takut bahkan trauma setelah gempa, ada yang kehilangan pekerjaan atau sumber penghasilan, ada yang sedang menghadapi persoalan keluarga. Kadang-kadang mereka tidak membutuhkan banyak nasihat. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Di sinilah doa Rosario menjadi nyata. Kita berdoa bersama, tetapi setelah itu kita juga membuka hati untuk mendengarkan saudara kita melalui sharing atau sekedar ngobrol bersama.

Kedua, kita dipanggil untuk saling menguatkan.

St. Theresia mengajarkan bahwa kasih dapat diwujudkan dalam tindakan-tindakan kecil. Kita tidak harus menunggu sampai mampu melakukan sesuatu yang besar. Kadang-kadang sebuah kunjungan sederhana, sambil membawa sepiring nasi/snack/kue ubi dll, sedikit bantuan, sebuah kata penghiburan, atau kesediaan mendengarkan sudah menjadi tanda kasih yang sangat berarti bagi seseorang.

Apalagi dalam situasi kita setelah gempa bumi. Ada saudara-saudari kita yang masih mengalami kesulitan. Ada yang kehilangan tempat tinggal, ada yang masih merasa takut, dan ada yang sedang berusaha membangun kembali kehidupan mereka.

Karena itu, selama Bulan Rosario ini, setiap pertemuan Rosario di KBG hendaknya tidak berhenti pada doa. Kita dapat membuat “jalan-jalan kecil kasih”. Misalnya, ketika malam berikutnya Rosario diadakan di rumah keluarga yang sedang mengalami kesulitan, Ketua KBG dapat mengajak anggota KBG untuk datang bukan hanya membawa Rosario, tetapi juga membawa perhatian dan bantuan nyata untuk keluarga tersebut.

Bantuan itu tidak harus besar. Mungkin berupa beras 1 mok, makanan/snack, uang sedikit, atau sekadar kehadiran dan perhatian. Kita dalam satu KBG dapat membuat kesepakatan sederhana: setiap kali Rosario berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain, kita juga bertanya, “Siapa di antara kita yang sedang membutuhkan perhatian dan bantuan?” Buat kesepakatan bersama sebagai anggota KBG untuk membantunya”.

Inilah semangat St. Theresia: kasih yang sederhana, tetapi dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Ketiga, kita dipanggil untuk membangun persekutuan KBG kita yang berakar pada Kristus.

KBG bukan sekadar tempat kita berkumpul untuk berdoa. Kalau keluarga adalah ecclesia dominica – gereja kecil maka KBG adalah gereja yang lebih besar dari keluarga. Di sana kita belajar untuk saling mengenal, menerima, mendengarkan, menguatkan, dan membantu.

Jangan sampai kita rajin berdoa Rosario bersama, tetapi kita tidak mengetahui bahwa keluarga yang tinggal dekat dengan rumah kita sedang mengalami kesulitan. Jangan sampai kita banyak mengucapkan doa tentang kasih, tetapi hati kita tertutup terhadap orang yang membutuhkan kasih.

Doa yang benar seharusnya membuat hati kita semakin terbuka dan tangan kita semakin ringan untuk menolong.

Karena itu, selama Bulan Rosario ini diharapkan setiap KBG dapat membuat satu kebiasaan sederhana: setiap kali berkumpul untuk Rosario, jangan hanya bertanya, “Di rumah siapa kita berdoa malam ini?” tetapi juga bertanya, “Siapa yang perlu kita perhatikan dan kita bantu pada malam ini?”

Ketua KBG dapat menyampaikan kepada anggotanya bahwa: “Malam berikut kita berdoa di rumah keluarga……. Keluarga ini sedang mengalami kesulitan. Mari kita datang bersama dan kalau memungkinkan kita membawa sedikit bantuan.”

Atau dapat juga disepakati untuk mengumpulkan sedikit persembahan kasih pada saat berdoa Rosario dan kemudian diberikan kepada keluarga yang terdampak gempa atau kepada anggota KBG yang sedang membutuhkan itu.

Santa Theresia mengajarkan kepada kita bahwa kekudusan tidak selalu tampak dalam perbuatan-perbuatan besar. Kekudusan dapat tumbuh melalui hal-hal kecil yang dilakukan dengan kasih. Demikian pula Rosario. Kekuatan Rosario bukan hanya terletak pada banyaknya doa yang kita ucapkan, tetapi pada perubahan hati yang terjadi setelah kita berdoa rosario.

Kalau kita sungguh-sungguh berdoa Rosario, kita seharusnya menjadi semakin sabar, semakin rendah hati, semakin peduli, semakin mudah mengampuni, dan semakin peka terhadap kebutuhan sesama seperti yang sudah dicontohkan Maria Bunda Yesus dan St. Theresia Kanak-Kanak Yesus.

Kalau kita sungguh-sungguh meneladani Bunda Maria, kita belajar seperti Maria yang peka melihat kebutuhan orang lain seperti Dia peka melihat kesulitan dan kebutuhan tuan Pesta Pernikahan di Kana. Maria tidak menunggu orang lain meminta. Ia melihat, ia memperhatikan, dan ia membawa-menyampaikan kebutuhan itu kepada Yesus.

Dan kalau kita sungguh mau belajar dari St. Theresia, maka kita harus menyadari bahwa kasih itu dapat dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana.

Karena itu, selama Bulan Rosario ini, marilah kita menghidupkan kembali doa Rosario dalam keluarga-keluarga dan KBG-KBG kita. Mari kita menjadikan setiap pertemuan dan doa Rosario bersama sebagai kesempatan untuk saling mendengarkan, menguatkan, dan berbagi kasih.

Terutama dalam situasi pasca gempa ini, janganlah ada saudara kita yang merasa berjalan sendirian. Kalau ada yang takut, kita hadir untuk menguatkan. Kalau ada yang kekurangan, kita hadir untuk berbagi. Kalau ada yang sedih, kita hadir untuk menghibur. Kalau ada yang kehilangan harapan, kita datang membawa harapan.

Dengan demikian, doa Rosario kita, tidak hanya menjadi doa yang keluar dari mulut, tetapi menjadi doa yang turun ke dalam hati dan diwujudkan dalam tindakan. Semoga melalui doa Rosario, kita semakin dekat dengan Kristus, semakin mencintai Bunda Maria, dan belajar dari St. Theresia untuk melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.

Semoga selama Bulan Rosario ini, KBG-KBG kita sungguh menjadi tempat di mana tidak seorang pun berjalan sendirian: tetapi kita saling mendengarkan, saling menguatkan, saling membantu, dan bersama-sama membangun Gereja yang berakar pada Kristus. Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, doakanlah kami. Bunda Maria, Ratu Rosario, doakanlah kami. Amin.