Kumba, Ruteng, Manggarai

Berita berpulangnya RP Laurensius Maria Ariston, SMM, 57 tahun, pada Senin sore, 28 September 2026 di Rumah Aspirat Serikat Maria Montfortan (SMM) di Nggorang, Labuan Bajo mengejutkan banyak orang, terutama mereka yang mengenal dan pernah dilayaninya. Imam-biarawan yang akrab disapa Pater Ariston, ini pernah menjejakkan kakinya melayani umat di Kota Ruteng, khususnya di wilayah Paroki Kumba pada kurun waktu Agustus 2017 – 2022.

Saat itu, biarawan kelahiran Keliling Semulong, Kalimantan, 3 Maret 1969 yang dikenal murah senyum dan bertutur kata halus (sejuk) ini sebagai Formatur di Novisiat SMM Ruteng. Terakhir, sejak tahun 2025, ia tinggal di Rumah Aspirat SMM di Nggorang, Labuan Bajo. Maka, ketika kabar kepergiannya meramaikan linmasa warga, terutama umat di Paroki Kumba, serentak peristiwa duka itu menjadi perbincangan yang mewarnai grup-grup WhatssApp hingga akun facebook.

RP Ariston dalam foto yang ia unggah di akun facebook miliknya beberapa hari sebelum ia berpulang ke Surga. dalam pastingan itu tertulis: Tuhan mohon kemurahan Hati Kudus-Mu. Ada sekitar 140-an sahabatnya yang memberikan dukungan doa dan kekuatan padanya dalam kolom komentar pada unggahan itu. (Foto: Facebook)

Saya dan sekitar 50-an teman di Ruteng, dalam rasa sedih mendalam, menyimpan banyak kenangan tak terlupakan bersama mendiang. Hal itu dimungkinkan, karna kami tergabung dalam satu kelompok kerasulan rohani yang dulu dikenal sebagai Kerabat Santu Montfort (KSM), Sekitar 3 tahun  terakhir nama komunitas ini diubah menjadi Persrikatan Maria Ratu Segala Hati (PMRSH). Ia juga pernah menjadi pembimbing rohani presidium-presidium Legio Mariae di Paroki Kumba.

Lebih jauh, ketika Pater Ariston mendapatkan mandat kongregasi untuk menjadi pembimbing rohani PMRSH sekitar 4 tahun terakhir sebelum beliau diutus ke tempat misi yang baru, saat itu saya menjadi Koordinator PMRSH Regio Ruteng, yang sekarang dijabat oleh Pak Willy Suhardi. Sebagai ‘rekan kerja’ terdekat dengan almarhum di komunitas PMRSH kami paling sering bertemu, sekedar berjumpa mengobrol hal-hal biasa sampai yang agak serius seputar masa depan PMRSH.

Di jaman dia (RP Ariston) menahkodai PMRSH, komunitas yang menghidupkan spirit Santu Louis-Marie Grignion de Montfort (31 Januari 1673-28 April 1716) ini boleh dibilang berkembang dengan baik, salah satunya Pembaktian Diri anggota baru di Sektor Tenda dan Gewak yang bila dijumlahkan mencapai sekitar 40-an orang. Tidak mudah, karna tahapan yang harus dilewati apabila seseorang mau masuk menjadi anggota PRMSH hingga Pembaktian Diri mesti mengikuti Totus Tuus, yakni 32 kali pertemuan.

Foto terakhir mendiang RP Ariston (kedua dari kanan) dan para konfrater (imam) SMM di Novisiat Serikat Maria Montfortan di Ruteng pada 15 Agustus 2026. Ia dikenal sebagai imam-biarawan yang rendah hati, sederhana, dan mengumat. (Foto: DOK SMM)

Pertemuan itu sendiri, mungkin lebih pas disebut sebagai ‘kursus bersambung’ pendalaman iman yang membahas sejumlah materi menarik untuk mempersiapkan seseorang lebih ‘matang’ secara iman mengikuti Pembaktian Diri (kepada Yesus melalui Bunda Maria). Di jaman kami, ada 18 orang yang ‘sampai’ pada pembaktian Diri pada 21 November 2018. Setahun kemudian lebih dari 20 orang di Sektor Gewak kembali mengikuti Pembaktian Diri ditambah beberapa lainnya yang sebelumnya sudah mengikuti tahapan Totus Tuus, namun berhalangan mengikuti acara ini pada tahun sebelumnya.

Sepenuh Hati Melayani

Mendiang RP Ariston dikenal sebagai imam yang luwes, supel (pandai bergaul), enerjik, suka ngobrol, pendengar yang baik, sabar, pemaaf, dan rajin. Tentu masih ada sederet ‘kebajikan’ yang dimilikinya yang pernah dirasakan langsung oleh orang-orang yang pernah dilayaninya. Dari tangan dinginnya, PMRSH menjadi sebuah komunitas kerasulan rohani yang aktif dan partisipatif dalam berbagai karya, termasuk dalam karya-karya sosial.

Ia meneruskan dengan sangat baik, karya pendampingan RP Marsel Lobi, pembimbing rohani PMRSH sebelumnya (waktu itu masih disebut KSM). Di jaman kedua imam ini, PMRSH mengalami perkembangan keanggotaan yang signifikan melalui kemunculan 2 angkatan baru dengan jumlah anggota yang menggembirakan. Formula yang dipakai oleh RP Ariston sederhana namun jitu, Totus Tuus dipindahkan, dari sebelumnya di biara Novisiat SMM ke rumah-rumah anggota PMRSH.

RP Ariston (kiri) dan saya dalam salah satu pertemuan PMRSH yang diadakan di Ruangan Pertemuan DPP Kumba dihadiri pula Pastor Paroki RD Mansuetus Hariman pada tahun menjelang Covid-19 melanda. Saat itu, antara Paroki Kumba dan PMRSH giatkan kolaborasi dalam mewujudkan karya-karya pelayanan untuk umat. (Foto: DOKPRI)

Caranya, 32 kali pertemuan Totus Tuus, yang sebelumnya terpusat di Biara SMM lalu dipindahkan ke Komunitas Basis Gerejani (KBG) di mana anggota baru lebih mudah dikumpulkan karna tinggal saling berdekatan. Dari sisi efektivitas, ini memang paling pas. Selain semua calon anggota mudah dikumpulkan, pembimbing rohani juga bisa berkenalan dari dekat dan berjumpa dengan keluarga-keluarga calon anggota PMRSH.

Menariknya lagi, di angkatan ke-3 yang mengikuti Pembaktian Diri, yakni yang berasal dari Sektor Gewak, ada anggota yang berlatar belakang anggota TNI, guru, pengusaha, ibu rumah tangga, tenaga kesehatan (perawat), dan pegawai swasta (asuransi). Ini semakin membuktikan, PMRSH diterima dan disukai.

Pernah suatu ketika, setelah Pembaktian Diri angkatan ke-3 (Sektor Gewak), RP Ariston berkunjung ke rumah saya, dan mendiskusikan bagaimana agar komunitas ini semakin menjangkau banyak umat yang ingin bergabung, yang ada di paroki-paroki lain. Ia ingin PMRSH terus diperkenalkan dan melebarkan sayapnya.

Namun, sebelum rencana itu terwujud, pada tahun 2023 kongregasinya mengutus dia ke tempat misi yang baru, yakni sebagai anggota Tim Misi di Rumah Misi Menyurai, Sintang dan selanjutnya pada 2024 dalam On going Formation di Bandung. Saya sempat berpikir, dengan energinya yang tak pernah habis, dan terus menyala, kongregasi membutuhkannya untuk berbagai karya.

RP Ariston yang mendapatkan tahbisan imamat di Putusibau, 7 Desember 2003 oleh Mgr. Agustinus Agus (Uskup Sintang) juga dikenal sebagai imam yang ‘tidak bisa tinggal diam’. Dalam suatu perjumpaan, ia pernah bercerita, malam hari saat pulang melayani misa di salah satu rumah umat di Ruteng, sepeda motor Astrea yang dikendarainya ‘terjun bebas’ di menabrak gundukan pasir di pinggir jalan. Lututnya lecet dan terluka. Tapi, dua hari kemudian ia sudah mengunjungi lagi pertemuan PMRSH di salah satu sektor.

Kenangan yang Selalu Hidup di Hati

Salah satu ‘ziarah’ bersama yang menarik saat RP Ariston dan belasan anggota PMRSH menghadiri acara pemberkatan Rumah Aspiran di Labuan Bajo. Saya tidak ingat persis waktunya di tahun berapa. Saat itu, dari Ruteng kami berangkat beriringan menuju Labuan Bajo menggunakan 4 mobil. Sesampai di Jembatan Wae Nengke, Lembor, kami istirahat sejenak.

Saya ingat baik, saat itu, RP Ariston mengenakan baju T-Shirt berwarna biru muda, jeans, dan sepatu kets. Satu lagi, kacamata riben. Kami semua menuruni jalan menuju kali yang mengalir deras. Lalu, duduk di bebatuan sambil menikmati makan siang yang sudah disediakan oleh para ibu PMRSH. RP Ariston senang mengagumi alam. Ia selalu melihat air yang mengalir, pepohonan, dan beberapa anak yang sedang mengail ikan.

Ke mana saja bepergian, sebuah kalung salib selalu bergantung di lehernya. Seakan ia mengajak semua orang untuk selalu memandang pada Salib, di setiap episode pahit-manisnya hidup. Hal itu, ia buktikan sendiri sampai akhir hayatnya, setia penuh dalam menanggung sakit yang dideritanya bersama Salib Yesus.

Di masa pandemi Covid-19 melanda, ia tak ‘membatasi diri dan jarak’ ketika harus melayani orang-orang sakit yang membutuhkannya. Sebuah masker kain berwarna coklat sering dipakainya ke mana saja ia melayani, bahkan orang-orang yang sedang berjuang dengan virus Corona. “Tidak usah takut, ada Tuhan yang menjaga kita,” ungkapnya ketika ada yang memberikan nasihat untuk mengurangi aktivitas.

Kisah persahabatan saya sekeluarga dengan RP Ariston yang paling berkesan, adalah saat putra ke-2 kami bernama Yosep menderita sakit selama 2 tahun dan kemudian tutup usia di umur 9 tahun pada September 202o. Imam yang sudah 27 tahun hidup berkaul ini yang paling sering mengunjungi kami dan memberikan peneguhan. Ia pula yang memberikan Sakramen Minyak Suci kepada anak kami itu di RS Ruteng, memimpin misa pemakaman bersama RP Lodovikus, SMM dan RP Kristian, SMM dan hadir di misa peringatan 40 malam.

Satu pesan homilinya yang sangat berkesan hingga kini, saat misa pemakaman Yosep,”Seperi anak Yosep yang selama sakit sangat bergantung kepada kasih sayang kedua orang tuanya, begitu juga kehidupan kita, sangat bergantung pada Kasih Allah.” RP Ariston adalah sosok imam yang selalu dekat, bahkan sangat dekat dengan realitas suka-duka orang-orang yang dijumpainya. Hal itu yang dirasakan juga oleh anggota PMRSH dalam berbagai sharing.

Kini, imam yang baik itu telah tiada. Namun, kenangan dan kasihnya selalu hidup dan menjadi penggerak semangat untuk selalu menyalakan kasih dan pelayanan tanpa pamrih. Dalam diri semua imam-biarawan SMM kami melihat spirit yang sama selalu hadir nyata dan dibagi-bagi ke siapa saja dan ke mana saja mereka di utus. Kunjungan, kehadiran, dan pelayanan mereka selalu membawa kekuatan dan pembaruan hidup.

Dalam dunia modern yang dipenuhi kecemasan yang dahsyat, kehadiran RP Ariston selalu ibarat sebening embun pagi yang menyejukkan hati. Dia selalu hadir menghibur yang berduka, menangis bersama yang sedang remuk hati, dan menguatkan yang papa. Dalam itu semua, ia meninggalkan beribu kenangan dan pesan hidup yang tersurat pun yang tersirat. Selamat Jalan, Pater Ariston.