Oleh: Jimmy Carvallo | Redaktur Portal Berita parokikumba.org dan Ketua Seksi Komunikasi Sosial (KOMSOS) Paroki Kumba
Tidak terasa, kita telah berada di penghujung, hari terakhir tahun 2025. Sebuah ziarah atau perjalanan bersama yang penuh warna, cerita, dan kenangan yang patut disyukuri. Syukur karena ada berupa-rupa peristiwa yang terjadi menjadi bagian dari wajah kebersamaan sebagai sebuah komunitas besar: komunitas murid Kristus yang berjalan bersama, berkarya bersama, dan senantiasa terpanggil untuk mewujudkan persaudaraan sejati.
Tahun 2025 yang akan kita lepas-pergikan bersama, ini menjadi ‘jembatan’ yang telah menghubungkan antara berbagai karya baik dalam reksa pastoral yang sukses kita jalankan bersama (kurun waktu 10 tahun terakhir) menuju gerbang Sinode IV Keuskupan Ruteng yang segera kita jemput. Kita pun bersyukur, masih diberikan waktu dan kesempatan untuk menjadi bagian dari peristiwa iman yang bersejarah itu.
Tahun Ekaristi Transformatif harus diakui pula, telah membawa dampak berupa transformasi hidup beriman, baik sebagai personal maupun komunitas di KBG, Wilayah, dan paroki. Ada begitu banyak pencapaian melalui berbagai program dan karya pelayanan yang dilakukan (bersama) di paroki kita yang telah berusia 63 tahun. Semua ini membuat partisipasi umat dalam hidup menggereja kian berkembang.
Sebut saja, beberapa di antaranya, seperti dibukanya pelayanan misa harian di Gereja Stasi Carep oleh Pastor Paroki Kumba RD Kornelis Hardin yang memudahkan umat mengikuti misa dan menerima “Santapan Surgawi” harian, berbagai program Ekaristi Sosial yang menyentuh langsung kebutuhan umat dan kaum rentan, dari ditingkatkannya nominal Pinjaman Tanpa Bunga (Rp 4 juta per-KBG), bantuan karitatif Natal dan Paskah, hingga dukungan kepada UMKM umat.
Dalam semua itu, bertepatan dengan Tahun Yubileum Biasa “Peziarah Pengharapan” yang dirayakan setiap 25 tahun, umat paroki Kumba pun mengalami ‘transformasi’ iman yang nyata. Dalam 3 monitoring Tahun Ekaristi Transformatf tingkat Kevikepan Ruteng, ada banyak episode dari kesaksian perwakilan umat paroki yang bersaksi bahwa Ekaristi sungguh menjiwai dan memberi daya hidup, memberikan arah dan tujuan hidup yang semakin bermakna.
Paroki Kumba juga mengakhiri tahun 2025 dengan sejumlah catatan menarik lain, seperti jumlah Komunitas Basis Gerejani (KBG) yang terus berkembang menjadi 99 KBG, para pelayan pastoral atau tenaga/agen pastoral di berbagai bidang yang semakin profesional dan penuh semangat – dedikasi pelayanan, termasuk pengembangan sarana-prasarana di kompleks Gereja yang perlahan mulai ditingkatkan demi kenyamanan umat yang datang.
Ketika orang mendengar atau berbicara tentang Paroki Kumba, maka ada satu tagline yang melekat diingatan, “Paroki Kumba Rumah Kita Bersama.” Dengan jumlah umat menghampiri 12 ribu jiwa, paroki ini berada di tengah realitas dinamika perubahan zaman yang ditadai dengan persoalan global, salah satunya krisis ekologi, seperti pemanasan global (global warming).
Sejak Tahun Pastoral Ekologi Integral (2024) umat paroki Kumba telah membangun komitmen berkesinambungan secara bersama untuk merawat lingkungan yang terus diwariskan sampai saat ini melalui gerakan pohon sakramen dan merawat mata air berbasis kearifan (budaya) lokal. Dalam master plan yang berisi rancang-bangun (desain) seluruh area/kompleks Gereja Kumba oleh RD Dino bersama DPP-DKP dan tim arsitek yang telah dirampungkan beberapa waktu lalu, ruangan terbuka hijau tetap menjadi penting dipertahankan.
Tahun 2025 menjadi tahun inovasi yang penuh terobosan baru, baik dari sisi reksa pastoral, program strategis, juga pengembangan infrastruktur menanggapi harapan umat. Karya nyata gereja hadir lebih dekat sebagai ‘teman seperjalanan’ umat, menangis dan tertawa bersama di tengah realitas tantangan jaman. Maka, ketika sebentar lagi kita ‘menutup’ kalender 2025, kita sebenarnya sedang menyongsong harapan-harapan sambil (terus) menyalakan dian yang tak kunjung padam: syukur tiada akhir.*

