Kumba, Ruteng, Manggarai
Seorang anak putri penyandang disabilitas, siswa di Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Negeri Tenda didampingi ayah dan ibunya saat mengikuti perayaan Ekaristi penerimaan Komuni Pertama di Gereja Santu Mikael Kumba, Selasa, 3 Juni 2025 pagi. Sebagai paroki yang ramah anak, kaum difabel selalu mendapat prioritas (perhatian) dalam pelayanan di Gereja. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

PAROKIKUMBA.ORGSebanyak 263 siswa yang berasal dari 5 Sekolah Dasar (SD) dalam paroki Santu Mikael Kumba menerima Komuni Pertama. Perayaan Misa Komuni Pertama digelar dalam dua jadwal, yakni di Gereja Santu Mikael Kumba pada Selasa, 3 Juni 2025 untuk 72 siswa SDI Tenda, 11 siswa SDLBN Tenda dan 88 siswa dari SDK Kumba I dan misa di Gereja Santu Leonardus Porto A. Mauritio Stasi Carep pada Kamis, 5 Juni 2025 untuk 61 siswa SDK Kumba II dan 31 siswa SDI Wae Rii.

Mengenakan alba (jubah putih panjang) ratusan siswa yang didampingi orang tua mereka, tampak sumringah saat berjalan memasuki Gereja. Sebuah kado yang dibungkus rapih dengan kertas berwarna warni berhiaskan pita-pita cantik dibawa setiap anak untuk dipersembahkan sebagai bagian dari bentuk sukacita dan syukur karena telah diperkenankan menyambut Ekaristi setelah melewati sejumlah tahapan pembinaan dan berbagai pendampingan iman dari para guru Agama Katolik di sekolah mereka.

Anak-anak penerima Komuni Pertama utusan atau perwakilan dari 3 sekolah, yakni SDI Tenda, SDLBN Tenda dan SDK Kumba I saat membawa bahan persembahan dalam liturgi Ekaristi pada Misa Komuni Pertama yang dilaksanakan di Gereja Santu Mikael Kumba, Selasa, 3 Juni 2025 pagi. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Pemandangan yang sama, ini terlihat di dua lokasi berbeda, yakni di Gereja Santu Mikael Kumba dan Gereja Santu Leonardus Porto A. Mauritio, Stasi Carep. Di Gereja Santu Mikael Kumba, Selasa, 3 Juni 2025 misa dimulai pukul 08.00 dipimpin Vikaris Parokial (pastor rekan) Kumba, RD Hironimus Apul dan konselebran RD Sandi Cakputra yang berkarya sebagai vikaris parokial di Paroki Watu Nggong. Misa dimeriahkan koor para guru SDLBN Tenda dan kelompok penari cilik para siswa sekolah tersebut..

Sementara di Gereja Stasi Carep, Kamis, 5 Juni 2025 misa juga dimulai pukul 08.00 pagi dipimpin RD Hironimus Apul dan konselebran RP Petrus Sola Dopo, SMM. Diiring koor dan penari para siswa SDI Wae Rii, misa berjalan lancar dan khidmat. Pada kedua misa, ini juga diadakan ritus pembaruan janji babtis semua anak yang menerima komuni pertama dan pembaruan janji perkawinan bagi semua pasutri (orang tua siswa). Pembaruan janji perkawinan mengingatkan kembali para orang tua akan komitmen dan tanggung jawab pernikahan yang pernah mereka ikrarkan di depan altar Tuhan.

Para siswa peserta Komuni Pertama dari SDI Wae Rii dan SDK Kumba II didampingi orang tuanya sedang berjalan dengan barisan yang rapih dan teratur masuk ke Gereja Santu Leonardus Porto A. Mauritio tempat digelarnya misa Komuni Pertama yang dipimpin RD Hironimus Apul dan konselebran RP Petrus Sola Dopo, SMM pada Kamis, 5 Juni 2025 pagi. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Menjadi Teladan dalam Hal-hal Sederhana

“Setiap akan menyambut Ekaristi, kita semua berdoa, Ya, Tuhan saya tidak pantas Engkau datang pada saya. Tetapi, berabdalah saja, maka saya akan sembuh. 92 anak dan semua orang tua yang hadir, semuanya tidak pantas menyambut Tuhan, namun kita semua diundang oleh Tuhan untuk datang ambil bagian di dalam Ekaristi,” kata RP Petrus Sola Dopo, saat menyampaikan homili di Gereja Stasi Carep.

Pasangan suami-istri (pasutri) orang tua dari anak-anak penerima Komuni Pertama dari SDK Kumba II dan SDI Wae Rii saat saling berjabatan (menggenggam) tangan sambil mengucapkan pembaruan janji perkawinan yang pernah mereka ucapkan saat menikah di depan altar Tuhan. Pembaruan janji perkawinan mengajak mereka membarui komitmen menjadi orang tua Katolik yang baik dan bertanggungjawab dalam mendidik dan membesarkan anak-anak. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Imam-biarawan dari Kongregasi Serikat Maria Montfortan yang disapa Pater Us, ini menambahkan semua orang Katolik tidak hanya hadir dalam perayaan Ekaristi, tapi juga diberi kesempatan mencicipi Tubuh-Nya sebagai Roti Hidup. “Pertanyaan untuk kita semua, khususnya bagi para orang tua, apakah doa Ya, Tuhan saya tidak pantas Engkau datang pada saya,,, masih sekedar kata-kata hafalan belaka atau benar-benar kita ungkapkan dari hati?”.

RP Petrus Sola Dopo, SMM (kiri) yang akrab dipanggil Pater Us dan Vikaris Parokial Santu Mikael Kumba, RD Hironimus Apul, disapa Romo Rino saat memimpin perayaan Ekaristi penerimaan Komuni Pertama bagi siswa dari SDI Wae Rii dan SDK Kumba II di Gereja Santu Leonardus Porto A. Mauritio, Stasi Carep, Kamis, 5 Juni 2025 pagi. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Dikatakan RP Us, ungkapan doa itu, bila sungguh muncul dari hati, dari kerinduan yang besar, maka setelah pulang menghadiri misa dan menyambut Ekaristi Suci, maka tidak ada lagi tempat atau perbuatan yang memperlihatkan kesombongan iman, iri hati, masih adanya kebencian dan perbuatan tidak terpuji lainnya. “Ada apa dengan kita yang melakukan hal-hal seperti ini? Kata-kata dalam doa sebelum menyambut Ekaristi itu mau menyadarkan kita agar mau dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati menerima Roti Kehidupan. Roti yang memberikan roh, spirit, kekuatan untuk kita bertumbuh dan berkembang dalam iman, harapan dan kasih,” ujarnya.

Kepada semua orang tua, RP Us mengingatkan agar harus selalu menjadi teladan dan contoh bagi anak-anak. “Para orang tua, ingatlah, kita adalah guru. Guru yang bergerak. Guru yang hidup 24 jam. Dengan demikian tugas utama adalah mengajak anak-anak untuk ke Gereja. Penting itu. Jangan datang ke Gereja dengan pakaian yang bagus tapi terlambat. Harus menjadi orang tua teladan. Mengajak dan mendesak anak-anak supaya bersama-sama setiap hari Minggu datang misa di Gereja. Itulah iman yang hidup,” ujarnya.

Ia mengatakan, memang tidak mudah mengajarkan anak-anak untuk memiliki sikap hidup yang baik, sehingga keteladanan orang tua harus menjadi yang pertama untuk menjadikan mereka bertumbuh sebagai anak-anak yang baik. Ia mengajak orang tua, dalam mendampingi perkembangan anak-anak yang menerima komuni, dimulai dengan menjadi teladan dalam hal-hal yang sederhana. Sekolah, menurutnya, hanya “memoles” anak-anak untuk bertumbuh dan berkembang, sedangkan dasar atau fondasi kehidupan anak dimulai dari keluarga (rumah) atau yang sering disebut sebagai gereja mini.

Anak-anak yang menerima Komuni Pertama dari 2 sekolah, yakni siswa SDK Kumba II dan SDI Wae Rii bersama orang tua mereka saat sedang menyalakan lilin dan mengucapkan pembaruan janji babtis. Misa ini dilaksanakan di Gereja Stasi Carep, Kamis, 5 Juni 2025 pagi dan berlangsung meriah. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

“Kita bersyukur pada Tuhan untuk momen yang istimewa ini. Anak-anak sudah melewati proses demi proses untuk bisa menerima sakramen ini. Maka, kesempatan ini juga menjadi saat yang baik bagi semua orang tua untuk melihat dan merenungkan kembali tentang tugas dan tanggung jawabnya. Apakah selama ini sudah menjadi orang tua yang baik dan menjadi teladan bagi anak-anak atau sebaliknya?” kata RP Us. (Jimmy Carvallo)

PAROKI KUMBA RUMAH KITA BERSAMA