
PAROKIKUMBA.ORG – Di Ruteng ada banyak sekali orang yang membutuhkan perhatian dan bantuan kita. Tidak perlu jauh-jauh. Sering mereka merasa tidak ada orang yang peduli dan memperhatikan mereka. Ada yang sakit, kebutuhan hidup atau ekonomi yang sangat prihatin, orang tua yang kesepian karena kurang kasih sayang dari keluarga dan orang lain, dan anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena orang tuanya tidak mampu membiayai. Kami terpanggil untuk ikut membantu mereka bukan karna kami lebih secara materi, tapi lebih-lebih karna kami ingin mereka juga mengalami kalau Tuhan itu baik, penuh belas kasih melalui sesama yang berbagi kasih untuk mereka.

Untaian kalimat itu diucapkan oleh Ibu Katharina Indrawati Bedhu, 77 tahun, disapa Ibu Katarina, pendiri Komunitas Lux Mundi (KLM) saat ditemui di rumahnya di Bilas, Kelurahan Pau, Ruteng, pekan kedua Bulan Oktober 2025. Saat itu, di rumahnya yang asri dikelilingi halaman luas berumput hijau dan taman-taman yang dipenuhi aneka jenis dan warna-warni bunga, ia nampak sedang sibuk menerima tamu, sejumlah ibu sederhana yang datang dari jauh.
Sejak lama, wanita yang juga biasa disapa Aci Thau Ing, ini dikenal banyak orang sebagai sosok yang dekat dengan orang-orang kecil dan selalu melakukan banyak karya nyata kasih, seperti menolong orang sakit, anak yatim piatu di panti-panti asuhan, dan berbagai kegiatan bhakti sosial yang diikuti ribuan orang dari berbagai penjuru.

Ibu Katharina Indrawati Bedhu berfoto dengan latar belakang patung Bunda Maria dari Fatima sepulangnya dari berziarah di Fatima, Portugal. Karya kemanusiaannya telah menginspirasi banyak orang, khususnya kaum wanita dan kini menjadi lebih luas menjangkau banyak orang melalui Komunitas Lux Mundi atau Komunitas Terang Dunia yang dididirikannya. (Foto : IST)
Lahir di Ruteng, Manggarai pada 31 Maret 1949, Ibu Katarina memiliki satu saudara kandung bernama Benediktus Jefri (almarhum). Dari pernikahannya dengan Hindrawan Wibisono, ia dikaruniai 4 anak, 2 laki-laki dan 2 perempuan, dan memiliki 8 cucu, 4 perempuan dan 4 laki-laki. Kisah kepeduliannya pada kaum papa dimulai jauh sebelum tahun 2022. “Saya sering berjumpa dengan orang-orang yang membutuhkan perhatian, yang sakit dan kesulitan mendapat perawatan yang layak dari dokter karena keadaan ekonomi. Saya tergerak hati untuk menolong,” ucap Ibu Katarina dengan mata berkaca-kaca mengenang orang-orang yang pernah dijumpainya.
Seiiring waktu berlalu, ia menyadari bahwa kerja-kerja kemanusiaan seperti ini tak bisa sendiri dilakukan. Di satu sisi, ia mengimpikan agar pelayanan kasih yang telah dikerjakannya bisa menjangkau lebih banyak lagi orang, namun di lain sisi, kenyataannya tidak mudah, mengingat usia, kesibukan, dan keterbatasan dalam “mencari” dan menemui mereka yang hidup dalam kondisi prihatin menjadi kendala.
Komunitas Kasih yang Membawa Terang
Suatu ketika di awal tahun 2022, pada sebuah acara syukuran sahabatnya di Ruteng, Ibu Katarina mendapatkan kesempatan yang tidak bisa dianggap “kebetulan” dan menjadi titik penting kesinambungan kiprah karya cinta kasihnya. Saat itu ia duduk tak jauh dari Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng RD Martin Chen yang juga menghadiri acara itu. “Sehabis acara saya mendekati Romo Chen dan cerita tentang keinginan saya untuk buat satu kelompok yang bisa mengajak orang lain untuk bersama-sama dalam kegiatan kemanusiaan,” kisahnya.
Gayung pun bersambut. RD Martin yang mengenal baik Ibu Katarina dan karya kasihnya menaruh respek dan mendorong agar rencana itu segera direalisasikan. “Saya juga waktu itu sedang kesulitan mencari nama yang pas untuk kelompok ini. Romo menyarankan dikasih nama Komunitas Lux Mundi, dari bahasa Latin yang artinya Terang Dunia. Saya senang sekali begitu mendengar nama itu,” kata Ibu Katarina.
Nama Lux Mundi terinspirasi dari Injil Matius 5:14 “Kamu adalah terang dunia” di mana Yesus mengajak para murid dan semua orang untuk memancarkan cinta dan kebaikan Allah kepada orang lain, khususnya yang menderita, sakit dan miskin. Komunitas ini ingin menjadi lilin-lilin kecil yang menerangi dunia sekitar melalui uluran kasih membantu sesama yang sengsara, sakit, dan terpinggirkan.
Misi pelayanannya kepada orang yang membutuhkan bantuan seakan mendapat kekuatan semangat baru, ketika ia mendengar nama yang indah itu. Apalagi ketika sekilas sempat terpikir olehnya, kata Lux Mundi atau Terang Dunia masih erat berkaitan dengan brand Toko “Matahari” yang dimilikinya sejak berpuluh tahun lalu. “Saya bersyukur karena nama komunitas ini juga sepertinya sangat mengena di hati dan sesuai dengan semangat karya yang kami buat,” ceritanya.

Sebagian dari anggota Komunitas Lux Mundi berfoto dengan para penghuni rumah Panti Renceng Mose tempat perawatan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) menjelang perayaan Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari, belum lama ini. Mereka mengambil bagian dalam aksi kemanusiaan bersama panitia Festival Golo Curu sebagai bentuk solidaritas dan berbagi kasih dengan kaum rentan. (Foto : IST)
Ketika mengobrol dengan media ini, Ibu Katarina awalnya enggan bercerita tentang perjalanannya membantu mendampingi orang sakit, menderita, dan anak yatim-piatu. Ia bahkan berpesan, kalau mau menulis karya Komunitas Lux Mundi, sedapat mungkin tak mencantumkan namanya. “Ini karya yang sebenarnya datang dari hati yang betul-betul ikhlas. Semata-mata mau menolong orang-orang yang membutuhkan perhatian dari berbagai keterbatasan yang kami punyai,” ujarnya.
Didukung Banyak Sahabat
Komunitas Lux Mundi resmi berdiri pada 2-2-2022 atau 2 Februari 2022. “Tanggal yang bagus, banyak angka dua-nya supaya lebih gampang diingat,” kata Ibu Katarina. Di Aula Missio kompleks Unika St. Paulus Ruteng, di hari itu, menjelang malam, puluhan orang dari berbagai lintas profesi berkumpul dalam satu semangat: persaudaraan. Ada pula Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus, sejumlah imam, dan para sahabat kenalan Ibu Katarina. Mereka menjadi saksi kelahiran Komunitas Lux Mundi sebagai kelanjutan kerja-kerja kemanusiaan yang telah lama ia lakukan seorang diri.
Sejak itu, KLM terus melaksanakan berbagai karya pelayanan kasih kepada banyak orang yang menderita. Tercatat ada 3 kegiatan besar bertajuk Bakti Sosial Kemanusiaan berupa pelayanan Kesehatan mata dan operasi katarak gratis bekerja sama dengan John Fawcett Foundation, Australia dan Komunitas Cinta Kasih (KCK) Denpasar. Di Kota Labuan Bajo tahun 2023 dan dua kali di Aula Assumpta Katedral Ruteng, yakni tahun 2022 dan 2025. Kegiatan amal ini digelar dan diikuti oleh ribuan orang yang datang dari berbagai agama, suku, dan budaya.
Ratusan orang telah disembuhkan melalui operasi katarak, lebih dari 2 ribu lainnya mendapatkan kaca mata dan perawatan mata oleh tim dokter spesialis mata. Terakhir diselenggarakan di Aula Assumpta Katedral Ruteng pada Agustus 2025. Ada banyak karya pelayanan bagi kaum tak berpunya yang dilakukan oleh Komunitas Lux Mundi. Bagi para anggotanya, berbagai bentuk pelayanan yang dilakukan bersama-sama merupakan titik simpul penghayatan iman secara konkrit di tengah dunia yang semakin terasing dari keberpihakan dan kepedulian kepada sesama yang “kalah” dalam kerasnya kehidupan.

Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng, RD Dr. Martin Chen. Ia memberikan nama komunitas pelayanan kasih yang didirikan oleh Ibu Katharina sebagai Komunitas Lux Mundi yang memiliki arti Terang Dunia. Komunitas ini selalu membantu kaum rentan dengan berbagai bantuan untuk yang sakit, para lansia/janda, dan anak-anak yang kesulitan mendapat biaya sekolah. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)
Saat ini ada lebih dari 25 anggota aktif KLM yang setia mendampingi/menolong orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kasih. Komunitas ini rutin mengunjungi orang-orang sakit di berbagai tempat, rutin pula membantu panti-panti asuhan, dan rumah perawatan ODGJ. Sejumlah orang sakit juga dibantu untuk bisa mendapatkan perawatan memadai hingga ke Rumah Sakit Komodo, Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo bahkan sampai ke Rumah Sakit Sanglah Denpasar.
“Keanggotaan Komunitas Lux Mundi fluktuatif, tapi selalu ada yang datang bergabung dan mengambil bagian bersama kami membantu sesama. Kami selalu mengunjungi orang-orang sakit, membagi sembako untuk para janda, membantu membiayai anak-anak sekolah yang orang tuanya kurang mampu, juga membantu panti-panti asuhan. Saya merasa bahagia ada di komunitas ini karena bisa ambil bagian dalam pelayanan kepada orang yang membutuhkan perhatian,” kata Maria Kurniaty, 60 tahun, anggota KLM sejak tahun 2022.
Bagai fajar pagi yang membawa terang harapan kepada kaum tak berpengharapan, para anggota Komunitas Lux Mundi yang mayoritas wanita, terus bekerja dalam keheningan, nyaris tak pernah berbicara apapun tentang beribu karya baik mereka kepada dunia yang selalu bising. Mereka tak pernah mencari panggung pengakuan apalagi perhatian. Bahkan, warga atau tetangga dekat dari orang-orang sakit, lansia, dan anak-anak sekolah dari keluarga tak mampu yang mereka datangi pun banyak yang tak mengenal siapa mereka. Tak hanya itu, karya mereka sebagai ‘saudara bagi sesama’ tak mengorbankan kodrat mereka sebagai seorang ibu rumah tangga yang penuh kasih dan perhatian pada suami dan anak-anak. Semua dilakukan dengan ketulusan hati dan cinta. (Jimmy Carvallo)

