Oleh: Jimmy Carvallo | Redaktur Portal parokikumba.org dan Peserta Sidang Sinode IV Keuskupan Ruteng
Ada yang menarik dari Sidang Pastoral Sinode IV Keuskupan Ruteng Sesi I yang digelar dari Senin, 5 sampai Kamis, 8 Januari 2026 di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas di Ruteng. Berbeda dengan Sidang Pastoral sebelumnya, tahun ini, semua peserta yang datang dari 61 Paroki sekeuskupan Ruteng merasa kerasan, betah berlama-lama meski lebih banyak (waktu) untuk duduk dari pagi hingga malam hari.
‘Ekosistem’ ruang persidangan yang ditata dengan estetik (bersih, rapih, dan teratur) oleh panitia, seperti adanya puluhan meja bundar (round table) yang mengedepankan konsep kehangatan persaudaraan, kekeluargaan, dan kedekatan antar peserta sidang menjadikan Sidang Sinode IV berkesan dan semakin nyaman, termasuk saat sesi diskusi kelompok yang semakin interaktif antar peserta yang duduk semeja.
Di atas setiap meja disediakan pula camilan (makanan ringan) air minum, tissue dan peralatan tulis-menulis. Tidak ada meja yang tidak dilengkapi dengan ‘kebutuhan dasar’ sidang yang dilaksanakan selama 4 hari itu. Menariknya lagi, panitia mengatur secara acak “rekan semeja” yang mengikuti sidang dari keragaman profesi, latar belakang, dan asal paroki. Tidak eksklusif atau memilih duduk ‘sesuka hati’ dengan orang tertentu, tapi semua didesain untuk berada dalam satu kelompok yang variatif.

Peserta Sidang Sinode IV Keuskupan Ruteng Sesi I saat tiba di Rumah Retret Maria Bunda Karmel Wae Lengkas di Ruteng, Senin pagi, 5 Januari 2026 dan melakukan registrasi di Pantia Sidang. Mereka datang dari 61 paroki sekeuskupan Ruteng. (Foto : KOMSOS KR)
Saya sendiri, merasa gembira, karena di luar dugaan bisa semeja dengan dua imam pastor paroki, seorang pastor rekan, vikaris parokial, Ketua DPP dari salah satu paroki di Kevikepan Borong, dan seorang Suster/Biarawati senior, mantan provinsial Kongregasi SSpS Flores Barat. Kesan pertama yang saya tangkap, inilah miniatur dari tema besar yang diangkat dalam Sinode IV Keuskupan Ruteng, yakni Berziarah Bersama dalam Pengharapan: Beriman, Bersaudara, dan Misioner.
Berziarah Bersama, itu telah tampak dari sejak awal (hari pertama) Sinode dengan tata atau komposisi duduk bersama di satu meja, bersama mereka yang adalah sesama dan datang dari berbagai penjuru/wilayah sekeuskupan. Sebagai sebuah proses sinodal. suasana (aura) Aula Santu Yohanes Salib, tempat sidang Sesi I digelar, sungguh menampakkan proses/dinamika Gereja yang berjalan bersama, yakni saling mendengarkan, berdialog, dan bersama menemukan kehendak Allah bagi masa depan Gereja Lokal Keuskupan Ruteng.

Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng RD Martin Chen bersama RD Ans Gara dan Rossy saat sedang membacakan Hasil Sidang Sinode IV Kesukupan Ruteng pada hari terakhir sidang di Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng. (Foto : KOMSOS KR)
Menjadi Harapan Baru
Bercermin dari suksesnya implementasi hasil Sinode III selama kurun waktu 10 tahun (2016-2025) dalam 5 bidang kehidupan Gereja, yakni Pewartaan, Pengudusan, Persekutuan, Diakonia, dan Tata Kelola (Manajemen Pastoral), Gereja Lokal Keuskupan Ruteng semakin menghadirkan Injil dalam konteks hidup umat yang konkret dan dinamis.
Melalui Rekoleksi, Perayaan Ekaristi, Input Bapak Uskup, Pengendapan dan Diskusi Kelompok, berbagai Sharing peserta, sidang Sinode IV telah merefleksikan secara mendalam ‘jejak langkah’ Sinode III yang telah ‘membumi’ di tanah nan indah Nuca Lale di tengah lanskap kehidupan umat.
Adalah suatu keistimewaan (rahmat) yang dirasakan dan sekaligus panggilan yang mulia di tengah dunia yang terus berubah begitu cepat seperti dalam dekade ini, ketika dalam kepemimpinan Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat yang mengambil moto tahbisan episkopalnya “Omnia in Caritate” — semuanya harus dijalankan dalam cinta. Sinode IV menjadi Harapan Baru, seperti yang dikatakan Bapak Uskup saat memberikan Input Awal pada Sidang Sinode hari pertama.
Panitia Sinode juga menggarisbawahi ihwal Cinta yang (mesti) menjadi dasar cara Gereja berjalan bersama, mendengarkan satu sama lain, mengambil keputusan pastoral, serta menghadirkan pengharapan bagi umat dan masyarakat. Sinode dilihat dan dialami sebagai peristiwa rahmat yang dieguhkan oleh karya Roh Kudus ke depan, yang meneguhkan panggilan panggilan Gereja untuk setia pada Injil dan relevan bagi dunia.
Cinta semakin menjadi menjadi kata yang sangat dirindukan oleh semua orang di tengah dunia yang semakin dipenuhi kekerasan, kebencian, dan perselisihan. Tentang cinta, Bunda Teresa dari Calcuta pernah menuturkannya dengan begitu bagus, bahwa tidak semua dari kita bisa melakukan hal-hal besar. Tapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.

Suasana saat acara Rekreasi Bersama setelah Perayaan Ekaristi penutupan Sidang Sinode IV di Aula Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng, Kamis petang, 8 Januari 2026. Tampak hadir juga Wakil Bupati Manggarai Fabianus Abu (berdiri, kedua dari kanan). (Foto : KOMSOS KR)
Sinode IV menjadi ruang refleksi yang melihat kembali kondisi realitas pastoral, berikut berbagai program pastoral dalam 5 bidang kehidupannya, serta menemukan visi-misi (Arah Dasar Pastoral), Strategi Pastoral, dan Desain Program yang tak hanya menjangkau tapi juga menyentuh harapan semua umat, yakni beriman, bersaudara, dan misioner.
Sinode IV Sesi I telah berakhir dan sukses dilaksanakan, dan akan disusul dengan perjumpaan-perjumpaan lanjutannya untuk lebih mendalami dan mempertajam visi-misi dalam terang Roh Kudus. Didukung oleh lantunan doa seluas samudera dari semua umat sekeuskupan Ruteng, Sinode ini menjadi langkah bersama menjemput panggilan Allah untuk terus bersaksi di tengah dunia.
Kita pun, umat Keuskupan Ruteng bersukacita memasuki ‘era’ Harapan Baru, dengan berziarah bersama dalam pengharapan dalam spirit Beriman, Bersaudara, dan Misioner. Sinode menghadirkan pengharapan, memperteguh ikatan persaudaraan, dan menyalakan semangat misioner di hati setiap orang.
Dunia selalu membutuhkan kehadiran kita yang membawa cinta. Ya, api cinta yang terus bernyala di hati dan berkobar-kobar untuk menerangi karya-karya baik kita semua.*

