Kumba, Ruteng, Manggarai

Oleh: Jimmy Carvallo | Redaktur Portal Berita parokikumba.org

Belum lama ini, saya berjumpa dengan dua peristiwa menarik, yang terjadi di dua tempat dan waktu berbeda. Yang pertama, saat sepasang suami-istri (pasutri) yang tahun lalu baru merayakan Emas Pernikahan sedang berjalan menuju Gereja Kumba menghadiri misa. Mereka sering ke Gereja bersama-sama. Sekitar seratusan meter jauhnya dari rumah, sang istri menoleh ke suaminya sambil berkata,”Oleh, Bapa. Saya lupa tadi rosario di meja. Bapa jalan duluan sudah, saya pulang lagi ambil itu rosario.”

Ucapan oma itu menarik perhatian saya yang kebetulan berjalan tak jauh dari keduanya. “Mama tunggu di sini. Saya yang pergi ambil saja,” jawab suaminya dengan lembut sambil balik badan bergegas kembali ke rumah. Perempuan yang setia mendampingi lelaki sejak 51 tahun lalu, itu tampak sumringah memandang suaminya dari kejauhan. Tak lama kemudian suaminya sudah kembali berada di sapingnya sambil menyodorkan rosario yang ketinggalan itu. “Ini, Mama taruh di tas saja,” ucapnya sambil mengajak istrinya melanjutkan perjalanan.

Di salah satu Sekolah Dasar di Ruteng, pekan lalu, saya duduk persis di samping sepasang suami-istri muda yang mendampingi anaknya yang baru kelas 3, menerima rapor ujian semester satu. Mereka sepertinya baru saja pulang dari kelas mengambil rapor dan menunggu hujan pagi reda. “Aduh, Ma, saya lupa topi tadi di kelas,” ujar anak perempuannya.

“Iya kah? Enu tunggu di sini. Mama yang pergi ambil,” kata si ibu. “Mama tunggu di sini saja. Biar saya saja yang pergi ambil di kelasnya,” sergah suaminya sambil berdiri lalu melangkah menyusuri lorong-lorong sekolah. Beberapa saat, dengan wajah berseri-seri anak perempuan berambut panjang itu menyambut ayahnya yang datang sambil memegang topi merah-putih yang tertinggal di kelas. Ibunya ikut tersenyum gembira.

Keluarga Kudus Nazaret: Yesus, Maria, dan Yosef dalam suatu penggambaran kisah hidup mereka. (Foto : IST)

***

Dua kisah nyata di atas bagaikan dua lukisan indah di atas kanvas yang menggambarkan realitas dua keluarga yang inspiratif. Pada Minggu, 28 Desember 2025, umat Kristiani merayakan Pesta Keluarga Kudus: Yesus, Maria, dan Yosef. Tiga sosok penting yang menjadi sentral refleksi keluarga-keluarga sepanjang jaman, tak lekang oleh waktu, bahkan semakin menarik diperbincangkan di era modern saat ini.

Membangun keluarga kristiani yang dilandasi cinta kasih, kesetiaan, sekaligus pengampunan dewasa ini menjadi hal yang langka dan sulit dilakoni. Setiap hari, di layar gawai (handphone) dan televisi, bersliweran aneka berita yang dibumbui sensasi tentang rumah tangga para public-figur yang berada di ujung tanduk: didera nestapa, affair, dan pahitnya perkawinan yang retak hingga berujung perceraian.

Tak hanya di layar kaca seperti itu, di sekitar kita pun berbagai cerita tentang cukup banyak rumah tangga yang di ambang perpisahan, pasutri yang sedang meniti senjakala perkawinan yang terasa pahit dan tak lagi bisa dipertahankan, menjadi konsumsi renyah/gurih dari ruang perkumpulan arisan ibu-ibu hingga acara resmi dalam bisik-bisik miring. Kemajuan dunia yang tak terbendung dalam berbagai bidang telah membawa krisis nilai yang juga mengancam perkawinan.

Keluarga merupakan gereja mini, tempat di mana nilai-nilai kasih dan kesetiaan, kesabaran dan penerimaan, pengampunan dan belarasa disemai, dipupuk, dan dibangun dengan iman. Panggilan sejati dan luhur keluarga kristiani sesungguhnya ada dalam kisah Keluarga Kudus Nazaret yang dalam kesederhanaanya, mengajarkan banyak kekayaan atau keutamaan yang  bisa ditimba dan diteladani  setiap waktu oleh keluarga-keluarga/pasutri.

Di tengah arus kemajuan dunia dewasa ini, ada yang mudah sekali hilang dari tengah keluarga, yakni semangat sebagai sebuah komunitas cinta kasih. Egoisme, hedonisme, materialisme, dan sikap acuh tak acuh telah meruntuhkan keluarga-keluarga yang nampak harmonis namun keropos dari dalam. Ada begitu banyak masalah yang dihadapi oleh keluarga kristinani berawal dari hilangnya komitmen perkawinan: setia dalam suka dan duka, dalam untung malang.

Satu keluarga di Ruteng dipotret saat sedang berdiri khusyuk di pinggir jalan menyambut prosesi Sakaramen Mahakudus pada Bulan Juni 2025 lalu. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Penghormatan atas martabat pribadi pasangan hidup (termasuk anak-anak) bisa berubah sekejab di tengah “jalan” ketika kemudi bahtera rumah tangga mulai terombang-ambing oleh persoalan-persoalan yang datang silih-berganti. Kesulitan itu semakin diperparah lagi ketika jalan-pintas diambil: media sosial dijadikan medium pelampiasan perasaan antipati dan kemarahan. Isi rumah pun diumbar menjadi konsumsi publik. Lupa, bahwa pintu rumah yang dibuka terlalu lebar saat ada masalah, akan mendatangkan masalah baru yang lebih besar.

Pesta Keluarga Kudus memanggil setiap keluarga kristiani untuk kembali ke fitrahnya. Tak ada satu pun bahtera rumah tangga atau keluarga yang berlayar tanpa melintasi angin, badai, dan taufan. Di abad ‘penuh drama’ dan pelik ini, kehancuran “gereja mini” semakin mudah terjadi ketika pernikahan dan keluarga kehilangan kehangatan: komunikasi, saling pengertian, saling menerima, dan berkurban tanpa syarat.

Dua kisah kecil yang mengawali permenungan ini, menuntun kita pada apa yang sebenarnya paling dibutuhkan dalam membangun keluarga yang harmonis, tentang sebuah kesadaran bahwa dari hari perkawinan sampai hari perpisahan abadi (kematian) hendaknya cinta tetap menjadi pengikat yang mempersatukan. Keluarga adalah sekolah cinta kasih, dan masyarakat atau komunitas-komunitas di mana kita berada merupakan medan persekutuan yang lebih luas di mana kita memurnikan cinta kasih itu.