Kumba, Ruteng, Manggarai

PAROKIKUMBA.ORG – Suatu pagi di penghujung minggu terakhir bulan September. Jarum jam dinding berwarna coklat berbentuk kubus yang bergantung di depan dinding dapur pastoran Paroki Kumba menunjukkan pukul 06.05. Bias cahaya jingga mentari di ufuk timur mulai nampak indah di kejauhan. Belum selesai lagu penutup misa harian pagi itu, seorang wanita terlihat melangkah bergegas keluar dari pintu timur Gereja Santu Mikael Kumba. Ia semakin mempercepat langkahnya menuju ruang makan para imam.

Tak lama kemudian ia membuka pintu ruang berukuran 4×5 meter itu dan segera menghampiri amplifier yang ada di atas sebuah meja kecil. Dengan perlahan dicolokkan kabel ke stopkontak lalu memencet tombol power yang ada pada perangkat kotak tersebut. Dari empat toa yang terpasang menghadap ke empat penjuru mata angin di kubah Gereja terdengar alunan lagu Mars Paroki Kumba bersambung Doa Angelus (Malaikat Tuhan) dan lagu Tahun Pastoral Ekaristi Transformatif “Tuhan Kau Satukan Kami.”

Sejenak wanita 45 tahun itu pun tertunduk sambil berdoa mengikuti panduan dari toa Gereja. Di penghujung lagu terakhir, ia lalu mematikan kembali tombol power, mencabut kabel listrik yang terhubung ke stopkontak dan perlahan meletakkannya kembali di atas kotak persegi. Dari ruangan yang menjadi saksi bisu kesetiaannya menjalankan tugas harian sebagai “penjaga Doa Angelus” selama 4 tahun terakhir, wanita lajang yang memiliki nama lengkap Maria Melty, lalu ke dapur melanjutkan pekerjaannya menyiapkan sarapan pagi untuk para romo.

Maria Melty, akrab disapa Tanta Melty, saat sedang sibuk menyiapkan minuman bagi semua pegawai yang bekerja di lingkup paroki Kumba pada jam minum bersama suatu siang di minggu pertama awal Bulan Oktober 2025. Ia selalu setia dalam pekerjaannya menangani rumah tangga pastoran bagian dapur. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Melty lahir di Nanu, Paroki Loce pada 14 Agustus 1980. Ia anak ke-5 dari 8 bersaudara buah cinta pasutri Bapak Dominikus Ngaja dan Mama Theresia Nau. Saat artikel ini dibuat, ayahanda tercinta, Bapak Dominikus baru saja berpulang menghadap Bapa di Surga. Dalam hati kecil, dengan imannya yang kokoh, Melty pun yakin mendiang ayahnya berjumpa dengan Sang Bunda yang setiap hari dilayaninya sepenuh hati melalui gema Doa Angelus yang memanggil semua umat Paroki Kumba mengenang peristiwa inkarnasi Yesus Kristus.

Kisah perjalanan hidupnya menjadi keluarga besar pastoran Paroki Kumba dimulai pada empat belas tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2000. Saat ia masuk pertama kali menjadi karyawan yang dipercayakan melayani rumah tangga paroki (bagian dapur), pastor paroki saat itu RD Leonardus E. Novery. “Saya merasa bahagia sekali karena bekerja di paroki Kumba, melayani di bagian dapur. Memasak memang menjadi hobi sejak lama dan saya selalu bahagia dengan tugas-tugas yang saya kerjakan,” ucap Melty.

Ia pernah mengalami kurun waktu kebersamaan dalam “satu komunitas” lingkungan pastoran dengan 5 pastor paroki, yakni RD Leonardus Novery, RD Blasius Harmin, RD Mansuetus Hariman, RD Antonius Ryanto Latu Batara, dan kini RD Dino Hardin. “Saya bersyukur karena sampai saat ini masih bisa menjalankan semua tugas di dapur. Saya mengalami Tuhan itu baik dan selalu memberkati hidup saya melalui pelayanan sebagai karyawan paroki yang bertugas di dapur pastoran,” ujarnya.

Melty (kiri) bersama pegawai paroki Kumba lainnya saat melayani santapan/makan bersama dalam salah satu acara di paroki Kumba. Ia memiliki bakat memasak dan pernah berada bersama 5 pastor paroki yang pernah menjadi gembala umat di paroki Kumba. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Di samping pekerjaan yang dijalaninya saban hari, seperti mencuci kain-kain altar dan lainnya, memasak setiap pagi, siang, dan menjelang malam untuk para imam dan terkadang tetamu para imam yang menginap di pastoran, melayani mamiri setiap menjelang siang untuk para pegawai paroki, ia tak pernah melewatkan tugasnya “mengajak” ribuan umat di paroki Kumba dan sekitarnya untuk bersama-sama mendaraskan Doa Angelus tiga kali sehari, setiap pukul 06.00 pagi, 12.00 siang, dan 18.00 petang.

“Saya menjalaninya dengan senang dan bahagia. Setiap dekat-dekat jam Doa Angelus, sesibuk apapun saya selalu bolak-balik melihat jam dinding untuk menghidupkan alat yang membunyikan toa untuk Doa Angelus,” cerita Melty. Pernah, suatu siang, wanita yang juga aktif di Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM), ini terlihat sedang sibuk memasak di dapur. Setelah menghidupkan ampli, ia melanjutkan memasak sayuran sambil komat-kamit berdoa Angelus. “Saya takut masakan saya hangus, jadi ya, berdoa Angelus sambil masak,” ujarnya sambil tertawa kecil saat media ini menanyakan kisah itu.

Berfoto di halaman depan dapur pastoran paroki Kumba yang biasa menjadi tempat istirahat saat jam minum para pegawai paroki. Di kompleks ini Melty telah 14 tahun menjadi bagian dari perjalanan komunitas pastoran paroki Kumba sebagai pegawai di bagian dapur. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Soal bakat tarik suara atau menyanyi, Melty tak ketinggalan. Saat pandemi Covid-19 melanda di tahun 2022, ia bergabung dalam koor Santa Corona yang terbentuk secara spontan bersama teman-temannya yang biasa melayani koor di Gereja Kumba. Koor itu, kini berubah nama menjadi Koor Santu Mikael. Mereka sering tampil dalam sejumlah misa, dari misa hari minggu, hari raya hingga misa syukur dan pernikahan. “Saya suka menyanyi sejak kecil. Saya ikut di koor Santu Mikael juga atas ajakan teman-teman. Senang bisa memuji Tuhan lewat kelompok koor ini,” kisahnya.

Hidupnya selalu menjadi tanda syukur atas semua anugerah Tuhan dan perlindungan Bunda Maria. Dua kata, yakni “Selalu Bersyukur” menjadi kemudi hidup dalam pelayanannya yang dilakukan dengan gembira dan tulus. Melty adalah sosok pegawai paroki Kumba yang tulus, sabar, dan setia melakukan pekerjaan keseharianya dengan penuh syukur. “Banyak kekurangan dalam diri saya. Saya bukan siapa-siapa, hanya bekerja melayani Tuhan dan orang lain melalui talenta atau bakat yang Tuhan sudah kasih,” ucapnya. (Jimmy Carvallo)