Kumba, Ruteng, Manggarai

PAROKIKUMBA.ORG – Kevikepan Ruteng mengadakan kegiatan Sidang Monitoring II untuk 25 paroki yang berada dalam wilayah ini di Rumah Unio Kuwu, 21-22 Agustus 2025. Hari pertama dilangsungkan Workshop Peningkatan Pelayanan Pastoral dan Sakramental bagi Umat Penyandang Masalah Kesehatan Jiwa di Kevikepan Ruteng.

Kegiatan Sidang Monitoring dibuka oleh Vikep Ruteng, RD Dyonysius Osharjo. Pada kesempatan ini hadir Direktur Yayasan Ayo Indonesia, Tarsi Hurmali, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, drg. Bertolomeus Hermopan, para Pastor Paroki, Pastor Rekan, Ketua Pelaksana DPP dari paroki-paroki sekevikepan Ruteng.. Tampak juga RP Yosef Masan Toron dari Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD).

Workshop dilakukan dengan tujuan meningkatkan pemahaman tentang isu kesehatan jiwa dan peran Gereja Katolik dalam penanganannya, mengidentifikasi tantangan dan potensi pelayanan pastoral terhadap ODGJ di lingkungan paroki, merancang layanan dasar pastoral kesehatan jiwa berbasis komunitas dan iman serta membangun komitmen lintas pihak untuk pelaksanaan program secara berkelanjutan.

Vikaris Episkopalis (Vikep) Ruteng, RD Dyonysius Osjharjo (kanan) dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, drg. Bertolomeus Hermopan saat acara Workshop Peningkatan Pelayanan Pastoral dan Sakramental bagi Umat Penyandang Masalah Kesehatan Jiwa di Kevikepan Ruteng pada Sidang Monitoring II Kevikepan Ruteng di Rumah Unio Kuwu, Kamis, 21 Agustus 2025. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Vikep Ruteng, RD Dyonysius Osharjo, membuka kegiatan ini mengatakan, dalam pelayanan pastoral terkadang masih terdapat kesulitan atau kendala dalam memberikan pelayanan kepada kelompok tertentu, seperti kelompok penyandang disabilitas dan ODGJ. “Kita selalu ingin memberikan pelayanan kepada mereka sebagai bagian dari anggota gereja di mana mereka juga memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan terbaik,” kata RD Os.

Sebagai pelayan pastoral, RD Os menuturkan, ada kewajiban untuk memberikan pelayanan kepada kelompok ini sesuai kebutuhan mereka, sehingga melalui workshop yang dilakukan ini bisa memberikan gambaran atau pemahaman kepada semua pastor paroki, pastor rekan dari paroki-paroki sehingga selanjutnya ada perencanaan yang lebih tepat, baik, efektif, dan berkesinambungan dalam pelayanan kepada mereka.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, drg. Bertolomeus Hermopan mengatakan kegiatan workshop para imam dan para ketua pelaksana DPP se-kevikpan Ruteng tersebut sangat tepat karena terjadi di tengah realitas keterbatasan layanan medis juga minimnya tenaga kesehatan terlatih (psikiater dan klinik rehabilitasi) ODGJ. Mirisnya, ini terjadi ketika angka orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) terus meningkat dan hingga saat ini di Kabupaten Manggarai terdata mencapai 899 orang. Data ini dihimpun berbasis laporan dari puskesmas-puskesmas.

RP Yosef Masan Toron, SVD saat tampil membawakan materi tentang Disabilitas Sebagai Bidang Layanan Diakonia Gereja Katolik pada acaea Workshop Peningkatan Pelayanan Pastoral dan Sakramental bagi Umat Penyandang Masalah Kesehatan Jiwa di Kevikepan Ruteng pada Monitoring II Kevikepan Ruteng di Rumah Unio Kuwu. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Sekedar gambaran sebaran umat yang mengidap ODGJ, di Beamese terdapat 29 orang, di wilayah Ponggeok 58 orang, di wilayah paroki Reo sebanyak 48 orang, Iteng 30 orang, data dari puskesmas Lao (masuk dalam wilayah Paroki Redong, Golo Dukal, dan Cewonikit) ada 53 orang, di paroki Timung 28 orang, di wilayah Langgo data dari 4 desa sebanyak 17 orang, dan di paroki Nanu terdapat 38 orang,

Selain itu data dari puskesmas di wilayah paroki Ketang terdapat 31 ODGJ, dari Anam 13 orang, di wilayah Watu Alo 22 orang, di paroki Narang 30 orang, paroki Beokina 30 orang, di Wae Mbeleng 37 orang, dan di pusat kota Ruteng (paroki Kumba, Katedral dan Karot) ada 50 orang, wilayah paroki Loce 13 orang, Bangka Kenda yang masuk dalam wilayah paroki Karot sebanyak 45 orang, di Pagal 27 orang dan terbanyak di Cancar yakni 76 orang. Ada pula di Dintor, paroki Denge sebanyak 56 orang, Todo 48 orang. Secara keseluruhan, wilayah Satar Mese raya memegang rekor jumlah ODGJ tertinggi.

“Kami mengambil data berbasis puskesmas, di mana puskesmas itu juga berada dalam wilayah paroki-paroki. Pada masyarakat kita saat ini potensi mengalami gangguan jiwa sangat tinggi ,” ujar drg Tommy, sapaan akrabnya.

Ia mengajak agar dalam diskusi workshop ini bersama para pastor paroki, pastor rekan dan ketua pelaksana DPP, ada rumusan pikiran bersama bagaimana ke depannya terbangun sinergitas dan langkah konkrit  bagi umat yang mengalami gangguan kejiwaan. “Ada banyak penyebab yang menyebabkan orang mengalami gangguan jiwa, seperti tekanan ekonomi, masalah dalam perkawinan dan lain lain dan itu sering menjadi pemicu,” kata drg. Tommy.

Vikaris Parokial Paroki Santu Mikael Kumba, RD Hironimus Apul, disapa Romo Rino (tengah), Ketua Pelaksana DPP Kumba, Florianus Mentot (depan, baju berwarna merah) dan para pastor paroki, pastor rekan (vikaris) serta para Ketua Pelaksana DPP dalam acara Workshop  Peningkatan Pelayanan Pastoral dan Sakramental bagi Umat Penyandang Masalah Kesehatan Jiwa di Kevikepan Ruteng. (Foto : PAROKIKUMBA.ORG)

Ia menambahkan, pada kelompok usia remaja juga banyak yang mengalami depresi karena harapannya tidak tercapai seperti salah satunya keinginan memiliki handphone. Pihaknya sudah deteksi melalui sekolah–sekolah dan ada 14 sampai 15 persen anak-anak mempunyai potensi depresi. “Dan inilah gambaran umum bagaimana tahapan yang dimulai dengan depresi hingga kondisi riil ODGJ sampai saat ini. Pertambahannya mencapai 100-150 orang per tahun,”katanya.

Pada workshop ini hadir 3 pembicara yakni, RP Yosef Masan Toron, SVD memperesentasikan tentang Disabilitas Sebagai Bidang Layanan Diakonia Gereja Katolik, dan Yeremias Santoso dari Yayasn Ayo Indonesia tentang Pendekatan Berbasis Masyarakat dalam Isu Disabilitas Umumnya dan Isu Keswa Khususnya serta Sharing Pendampingan ODGJ dari Renccng Mose, KKI dan Paroki. Pada kesempatan ini, Tarsi Hurmali, Direktur Ayo Indonesia juga memberikan gambaran awal arah perumusan aksi konkret untuk diimplementasikan di paroki-paroki. (Jimmy Carvallo)

PAROKI KUMBA RUMAH KITA BERSAMA