Kumba, Ruteng, Manggarai

Oleh: Sr. Florensia Imelda Seran | Biarawati di Kongregasi Suster-Suster Katekis Hati Kudus (SCSC) di Ruteng, Flores

(HARI MINGGU PRAPASKAH I: Kejadian 2:7-9;3:1-7, Roma 5:12-19, Matius 4:1-11)

Saat kita memasuki minggu Prapaskah pertama, bacaan-bacaan suci mengingatkan kita akan dua sosok penting dalam Kitab Suci: Adam Lama dan Adam Baru. Adam Lama, sebagai manusia pertama, menjadi penyebab kejatuhan manusia ke dalam dosa karena ketidakkonsistenan dalam menjalankan kehendak Tuhan. Sebaliknya, Adam Baru, yaitu Yesus Kristus, menjadi penyebab utama keselamatan manusia melalui kesetiaan dan ketaatannya pada kehendak Allah. Dua keputusan besar ini tidak hanya mempengaruhi sejarah hidup manusia, tetapi juga menentukan arah keselamatan umat Allah.

“Takdir ditulis oleh tangan Tuhan, tetapi keputusan adalah pena yang kita pegang.” Dalam perjalanan hidup, setiap individu dihadapkan pada pilihan yang menentukan arah dan makna hidupnya. Meskipun takdir kita ditentukan oleh kehendak Allah, keputusan yang kita ambil mencerminkan kebebasan dan tanggung jawab kita sebagai makhluk berakal budi. Seperti pena yang menuliskan cerita hidup kita, keputusan kita dapat membawa kita lebih dekat kepada tujuan ilahi atau menjauh dari-Nya. Dalam konteks iman Kristiani, keputusan memiliki dimensi spiritual yang mendalam, dan Yesus menjadi teladan utama dalam menolak godaan dan tetap berpegang pada kehendak Tuhan.

Sejak awal penciptaan, manusia diberikan kebebasan untuk memilih. Dalam Kitab Kejadian, kita melihat bagaimana Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa melalui keputusan yang salah. Godaan dari ular untuk makan buah terlarang menunjukkan bagaimana keinginan untuk mengetahui dan menguasai dapat menggoda manusia untuk melawan kehendak Allah. Kejatuhan ini membawa konsekuensi besar: kehilangan hubungan yang intim dengan Allah dan masuknya dosa ke dalam dunia. Kejatuhan manusia menciptakan “kemendesakan akan keselamatan,” dan Yesus adalah jawaban Bapa atas kerinduan manusia akan keselamatan.

Dalam Perjanjian Baru, setelah dibaptis, Yesus dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun untuk dicobai (Mat 4:1-11). Di sana, Ia menghadapi tiga godaan yang menawarkan jalan lebih mudah dengan konsekuensi meninggalkan misi-Nya. Pertama, Yesus ditawari mengubah batu menjadi roti untuk mengatasi rasa lapar-Nya. Kedua, Ia diminta untuk memamerkan kuasanya dengan melompat dari Bumbungan bait Allah. Ketiga, Yesus ditawarkan kekayaan dunia dengan syarat menyembah iblis. Dalam ketiga godaan ini, Yesus menolak untuk berkompromi dan tetap berpegang teguh pada kehendak Bapa, meskipun jalan yang terbentang di depan-Nya adalah “Jalan Salib.” Keputusan-Nya menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah adalah prioritas utama, bahkan di tengah godaan yang paling menggiurkan sekalipun.

Keputusan Yesus untuk menolak godaan bukan hanya contoh moral, tetapi juga bagian integral dari rencana keselamatan Allah. Dengan menolak godaan, Yesus menunjukkan bahwa Dia adalah Mesias yang sempurna, mampu menanggung pencobaan dan mengalahkan kuasa dosa. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus membuka jalan bagi manusia untuk kembali kepada Allah, memberikan harapan akan keselamatan dan pengampunan. Dalam surat kepada Roma, Paulus menekankan bahwa melalui satu orang, yaitu Yesus Kristus, banyak orang akan menjadi benar (Roma 5:19). Keputusan Yesus untuk taat hingga mati di kayu salib menjadi titik balik dalam sejarah keselamatan, di mana dosa dan kematian dikalahkan, menawarkan kesempatan untuk memulihkan hubungan yang hilang dengan Allah.

Sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk mengikuti jejak-Nya dalam mengambil keputusan yang mencerminkan kehendak Allah. Setiap hari, kita dihadapkan pada godaan yang dapat mengalihkan kita dari tujuan ilahi kita. Dalam situasi sulit, kita harus berpegang pada firman Allah dan mencari bimbingan Roh Kudus. Keputusan yang kita ambil harus didasarkan pada cinta, kebaikan, dan keadilan, karena setiap tindakan kita berdampak pada diri kita dan orang lain. Seperti yang dikatakan St. Agustinus, “tidak ada keputusan yang terlalu kecil untuk dipertimbangkan dengan serius.” Kebebasan kita untuk menunjukkan kasih kepada sesama juga berarti kita memiliki kebebasan untuk menutup mata terhadap penderitaan orang lain. Hidup manusia adalah serangkaian kebebasan yang menentukan nasib kita di sini dan di akhirat.

Oleh karena itu, penting bagi seorang Kristen untuk memiliki spiritualitas keputusan, yang didasarkan pada nilai-nilai Kristiani yang diwariskan oleh Yesus sendiri. Setiap detik, kita dihadapkan pada pilihan. Keputusan yang benar lahir dari hati yang terdidik dan memiliki spiritualitas yang mendalam. Ketegasan Yesus dalam menolak tawaran kenikmatan menunjukkan bahwa jika kita melayani nafsu, kita akan terjebak dalam perangkap yang menghancurkan, tidak hanya diri kita tetapi juga orang lain. Hal ini melukai kemuliaan Allah yang melekat dalam diri kita, yaitu Hati Nurani.

Menolak jalan kenikmatan dan memilih jalan yang lebih sempit dan penuh penderitaan mungkin terasa menyengsarakan, tetapi pada akhirnya, hidup kita akan bermuara pada keselamatan yang kita raih melalui penderitaan, kesulitan, dan perjuangan sehari-hari. Keputusan-Nya di padang gurun dan di kayu salib mengingatkan kita bahwa melalui ketaatan dan pengorbanan, keselamatan bagi umat manusia dapat dicapai.

Takdir kita ada di tangan Allah, namun Allah memberikan kebebasan kepada kita, dan keputusan kita adalah pena yang menuliskan takdir itu. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai kelak. Semoga kita selalu diberdayakan untuk membuat keputusan yang mencerminkan kehendak Allah dan membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Semoga.