Oleh: Sr Florensia Imelda Seran, SCSC | Biarawati Kongregasi Suster-Suster Katekis Hati Kudus (SCSC) di Ruteng, Flores.
Hari ini, kita memasuki masa Prapaskah, yang juga dikenal sebagai masa puasa atau Retret Agung. Masa berahmat ini dimulai dengan pemberian abu di dahi atau kepala umat beriman, sebagai simbol pertobatan dan kesediaan untuk kembali kepada Allah. Praktis liturgis ini mengingatkan kita akan asal-usul kita sebagai makhluk yang diciptakan dari debu dan bahwa kita akan kembali kepada debu.
Penggalan kalimat “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” bukan sekadar seruan yang diucapkan saat tanda salib abu diberikan, tetapi merupakan panggilan yang mendalam dan berkelanjutan bagi setiap umat Kristiani. Panggilan ini mengajak kita untuk terus-menerus membarui diri dan terus hidup dalam situasi rahmat. Oleh karena itu, pertobatan dan iman kepada Tuhan harus menjadi inti dari kehidupan kita, karena melalui pertobatan yang berkelanjutan, kita dapat mencari dan menemukan Yesus serta menghidupi nilai-nilai yang Dia wariskan kepada kita.
Kata “bertobat” dalam bahasa Yunani, “metanoia,” berarti perubahan pikiran atau hati, yang mencerminkan transformasi mendalam dari “membelakangi Tuhan” menjadi “menghadap kepada-Nya”. Ini adalah proses berbalik dari jalan yang mengarah pada maut atau kematian menuju jalan yang menghantar pada kehidupan, yang mencakup penyesalan atas dosa dan kesediaan untuk meninggalkan segala tindakan yang bertentangan dengan ajaran Tuhan.

Dalam 2 Korintus 5:17, Paulus menyatakan, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Iman kita harus mengubah cara kita melihat dunia dan berinteraksi dengan sesama. Oleh karena itu, kita tidak bisa menunda-nunda pertobatan, karena setiap saat adalah kesempatan untuk mengalami kasih Allah yang selalu baru.
Hidup dalam kasih Allah berarti mengizinkan kasih-Nya membentuk karakter dan tindakan kita. Dalam 1 Yohanes 4:16, kita diajarkan bahwa “Allah adalah kasih,” dan jika kita tinggal di dalam kasih-Nya, kita akan menemukan damai yang sejati. Kasih Allah harus menjadi motivasi utama dalam setiap tindakan kita, baik dalam hubungan dengan sesama maupun dalam pelayanan kepada dunia. Ketika kita bertindak dengan kasih, kita mencerminkan karakter Kristus dan menjadi saksi Injil yang hidup.
Masa puasa adalah waktu yang sangat penting bagi setiap orang Kristen, terutama dalam konteks penitensi dan pertobatan. Dalam periode ini, kita diingatkan akan asal-usul kita sebagai manusia yang diciptakan dari debu (Kejadian 2:7). Penerimaan abu di dahi menjadi simbol yang mengajak kita untuk merenungkan hidup kita sendiri dan menyadari bahwa tanpa intervensi ilahi, kita tidak lebih dari sekadar materi yang tidak berarti. Namun, penerimaan abu ini juga memberi kita peluang untuk menjadi “berlian” di tangan Allah, yang bersinar di tengah kegelapan dunia.
Kita tidak boleh menunda pertobatan, karena kita bukanlah pemilik waktu; kita hanya dipinjami waktu. Dalam kitab nabi Yoel 2:12-13, Tuhan memanggil umat-Nya untuk bertobat dengan sepenuh hati: “Tetapi sekarang juga, demikianlah firman Tuhan, bertobatlah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis, dan dengan meratap. Dan koyakkanlah hatimu, dan bukan pakaianmu.” Pertobatan yang sejati bukanlah yang tampak lahiriah, melainkan yang berasal dari dalam diri kita. Terkadang, tindakan lahiriah dapat menjadi kamuflase; integritas kita sebagai anak-anak Allah terletak pada kedalaman jiwa kita.
Pertobatan yang sejati mengharuskan kita untuk mengakui keterbatasan kita sebagai makhluk yang sering terjebak dalam dosa. Kesadaran ini membawa kita pada pengakuan akan kebutuhan mendalam kita akan keselamatan yang hanya dapat ditemukan dalam Kristus. Seperti halnya kita membutuhkan makanan dan minuman untuk hidup, demikian pula kita memerlukan kasih Allah yang memberi semangat dan kehidupan. Masa puasa, terutama selama 40 hari menjelang Paskah, adalah kesempatan untuk memperdalam iman kita dan memperbaharui komitmen kepada Tuhan. Dalam keheningan doa dan tindakan kasih yang tersembunyi, kita diundang untuk bangkit dari debu menjadi berlian di tangan Allah.
Dalam keheningan doa, kita diajak untuk merenungkan kehadiran Tuhan secara intim, tanpa perlu mencari pengakuan dari orang lain. Di tengah kebisingan dunia digital, tantangan untuk tetap setia dalam keheningan menjadi semakin nyata. Doa yang tulus, sedekah yang dilakukan tanpa pamrih, dan puasa yang mengarahkan kita pada refleksi diri adalah cara kita membangun relasi yang lebih dalam dengan Allah. Ketika kita memberi tanpa mengharapkan pujian dan berpuasa dengan niat yang murni, kita dapat menjaga motivasi kita tetap bersih dan fokus pada dampak positif yang kita berikan kepada sesama.

Di masa tobat ini, kita diajak untuk “koyakkan hati, dan bukan pakaian,” sebagai panggilan untuk mengalami transformasi spiritual yang mendalam. Dalam keheningan dan refleksi, kita menyadari bahwa kita bukan sekadar debu yang rapuh, tetapi juga berlian yang dipenuhi dengan kasih dan anugerah-Nya yang tak terhingga. Dengan demikian, kita dipanggil untuk menjadi cahaya yang bersinar di dunia ini, mencerminkan kasih-Nya yang abadi melalui kesaksian hidup, pelayanan, dan karya kita masing-masing.
Setiap dari kita, terlepas dari panggilan hidup dan pekerjaan kita, memiliki kesempatan untuk menjadi “berlian” di tangan Allah, bersinar dalam cara yang unik dan autentik. Kita diundang untuk mencerminkan cahaya Kristus di tengah dunia yang sering kali gelap, menjadi saksi nyata akan kasih-Nya yang transformatif.
Semoga kita diremukan dalam doa, puasa, dan sedekah yang dilakukan dalam ketersembunyian, sehingga pada akhirnya, kita dapat bersinar bagai berlian indah di tangan Allah Bapa kita yang berada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, kita tidak hanya menghidupi iman kita, tetapi juga menginspirasi orang lain untuk menemukan cahaya Kristus dalam hidup mereka. Semoga.

