Penulis: Retha Janu | Pembina Sekami Paroki Santu Mikael Kumba
Kehangatan rangkaian Festival Golo Koe 2025 masih terasa. Festival yang menjadi agenda tahunan Keuskupan Labuan Bajo tersebut juga turut didukung Keuskupan Ruteng dalam beberapa agendanya. Selain terlibat dalam pameran selama lima hari penyelenggaraan festival, Keuskupan Ruteng juga terlibat dalam karnaval budaya pada tanggal 12 Agustus 2025.
Untuk memeriahkan festival dimaksud, Keuskupan Ruteng mengutus Pusat Pastoral, Sanggar Lando Uwa UNIKA St. Paulus Ruteng, dan Paroki St. Mikael Kumba sebagai perwakilan keuskupan.
Rombongan Serikat Kerasulan Anak Misioner Indonesia (SEKAMI) dan Putra-Putri Altar (PPA) yang mengenakan costum cosplay bertema harmoni ekologis saat berfoto bersama di Rumah Kevikepan Lama, Labuan Bajo sesaat sebelum mengikuti Karnaval Budaya FGC. Mereka didampingi Vikaris Parokial Kumba, RD Rino Apul dan pembina Sekami, Retha Janu. (Foto : RETHA JANU)
Seturut mandat keuskupan, Paroki St. Mikael Kumba melalui anak Sekami dan PPA telah menyiapkan sejumlah perangkat karnaval sesuai tema yang diberikan keuskupan: The Journey of The Living Bread (Perjalanan Roti Hidup). Tema ini sengaja diambil untuk melihat makna Ekaristi Transformatif yang menjadi payung besar arah gerak Keuskupan Ruteng tahun ini.
The Journey of The Living Bread ingin menggambarkan makna ekaristi yang mau juga keluar dari altar perjamuan. Tema ini ditransformasi menjadi sebuah bentuk karnaval yang berfokus pada perjalanan roti hidup di dalam ekaristi itu sendiri lalu ke dalam kebudayaan setempat, ke dalam konteks pekerjaan sehari-hari, ke dalam hubungan dengan sesama dan juga hubungan dengan alam. Dengan menggunakan sejumlah kostum bertema alam seperti pohon, awan, matahari, air, beberapa hewan dan buah-buahan, anak-anak dari paroki Kumba melakukan cosplay yang unik.
Peserta Karnaval Budaya beranggotakan Sekami dan PPA Paroki Santu Mikael Kumba saat mengikuti Festival Golo Koe, 12 Agustus 2025 dan bergabung bersama kontingen lainnya dari Keuskupan Ruteng. Partisipasi mereka merupakan wujud dukungan menyukseskan FGC dan mengajak semua orang peduli ekologi. (Foto : RETHA JANU)
Karnaval ini dimulai dari depan rumah sakit Siloam Labuan Bajo ke arah Zazgo Mart, berbelok ke jalan Soekarno Hatta dan berakhir di Waterfront, Labuan Bajo. Di sepanjang jalur karnaval, tim keuskupan Ruteng membuat sejumlah gestikulasi Ekaristi Tranformatif, seperti lagu Tuhan Kau Satukan Kami, tarian persembahan Tiba Yo Mori, gestikulasi pemecahan roti, penyembahan sakramen, dan pembagian permen oleh anak Sekami sebagai simbol ekaristi yang karitatif. Gestikulasi yang dibawakan ini turut menarik perhatian sejumlah warga yang memenuhi jalur karnaval tersebut.
Walau jalur yang dilalui cukup panjang, karnaval budaya ini tidak membuat semangat para peserta festival kendur. Ini menjadi pengalaman menarik bagi masa kecil anak-anak sekami dan PPA Paroki Kumba.


Rombongan Serikat Kerasulan Anak Misioner Indonesia (SEKAMI) dan Putra-Putri Altar (PPA) yang mengenakan costum cosplay bertema harmoni ekologis saat berfoto bersama di Rumah Kevikepan Lama, Labuan Bajo sesaat sebelum mengikuti Karnaval Budaya FGC. Mereka didampingi Vikaris Parokial Kumba, RD Rino Apul dan pembina Sekami, Retha Janu. (Foto : RETHA JANU)
Peserta Karnaval Budaya beranggotakan Sekami dan PPA Paroki Santu Mikael Kumba saat mengikuti Festival Golo Koe, 12 Agustus 2025 dan bergabung bersama kontingen lainnya dari Keuskupan Ruteng. Partisipasi mereka merupakan wujud dukungan menyukseskan FGC dan mengajak semua orang peduli ekologi. (Foto : RETHA JANU)